Jumat, 29 Juni 2012

KEDERMAWANAN SI FAKIR

         Wahai saudaraku yang dirahmati oleh Allah, pada edisi kali ini kami akan menurunkan kisah Ulbah bin Zaid, nama yang jarang dikenal dalam sejarah sahabat Rasulullah. Beliau adalah salah satu potret kedermawanan si fakir. Bagaimana si fakir dermawan?? Ini adalah hal yang luar biasa, biasanya kedermawanan datang dari yang kaya, tapi lihatlah Ulbah bin Zaid, si fakir yang sangat dermawan. Berikut kisahnya..

          Kala itu, musim paceklik sedang melanda kota Madinah dan sekitarnya, perekonomian kaum muslimin juga sedang sulit-sulitnya, musim panas sedang berada dipuncaknya, angin dimusim itu juga membawa hawa panas, debu-debu beterbangan mengotori atap-atap dan halaman rumah penduduk Madinah. Kulit serasa diiris, mata perih seperti perihnya luka yang ditetesi dengan air cuka. Di musim panas seperti itu biasanya penduduk kota Madinah lebih suka istirahat di dalam rumah atau tinggal di kebun-kebun mereka sambil memetik kurma muda yang memang sedang ranum-ranumnya, karena pohon kurma berbuahnya justru pada musim panas. 

       Bulan Sya’ban tahun ke-9 setelah Rasulullah hijrah ke Madinah. Tersebarlah berita bahwa bangsa Romawi yang merupakan bangsa dan kerajaan terkuat dan tebesar pada masa itu, sedang melakukan persiapan besar-besaran akibat ketidakpuasan mereka akan hasil Perang Mu’tah. Dan hal itu benar adanya, setelah Rasulullah mengumumkan agar mereka mempersiapkan diri untuk perang, dan beliau langsung menyebutkan dimana mereka akan berperang dengan sangat jelas tujuannya, yaitu Tabuk. Suatu daerah yang nun sangat jauh bagi bangsa Arab untuk ditempuh ketika itu.
Begitu mendengar seruan jihad dijalan Alloh Ta’ala, kaum muslimin berbondong-bondong memenuhi kota Madinah dari seluruh penjuru negeri. Bagaimana tidak mereka berbondong-bondong berjihad dijalan Allah, sedangkan gerbang surga yang luasnya seluas langit dan bumi akan dibukakan untuk mereka. Bahkan orang-orang yang tidak mampu, tidak memiliki apa-apa dan miskin juga datang kepada Rasulullah, berharap dirinya diikutsertakan dalam peperangan Tabuk, meminta kepada beliau bekal peperangan agar dia bisa ikut perang.

          Rasulullah juga mengajak para dermawan untuk menginfaqkan hartanya demi keberangkatan pasukan prihatin ini (Jaisyul Usroh). Kenapa disebut pasukan prihatin? Bagaimana tidak, keadaan mereka sangat miskin, disaat musim paceklik, satu unta harus bergantian untuk 18 orang pasukan perang, makanan mereka adalah dedaunan agar sekalian dapat airnya, bahkan terkadang harus memotong seekor unta agar dapat air dan makanan sekaligus.

        Maka pada saat itu tersebutlah Ulbah bin Zaid Al Haritsi, seorang yang sangat faqir, tidak memiliki apa-apa diatas dunia ini, seorang dari golongan Anshor dari kabilah Aus, tatkala dia menyaksikan kesibukan kaum muslimin dalam persiapan jihad ke Tabuk, melihat seluruh kaum muslimin dari berbagai pelosok negeri tinggal dan menetap di tanah kelahirannya Madinah, datang berbodong-bondong kemudian memancang kemah, sambil membawa apa yang mereka miliki dari senjata dan kendaraan, memancang kemahnya menunggu hari keberangkatan. Dia juga melihat transaksi di pasar-pasar Madinah banyak transaksi yang terjadi dialog berhubungan dengan persiapan perang, dari mulai kuda, unta, panah, pedang, tameng besi dan yang lainnya. Dia menyaksikan itu semua dengan kesedihan yang sangat mendalam. Semua orang telah membeli perlengkapan perangnya, sedangkan dirinya.. Apa yang akan dia persiapkan..? Jikalau hendak membeli, mau beli pakai apa? Uang satu dirham pun ia tidak punya.

        Maka semakin terbenamlah serasa dirinya ke dalam bumi, hancur luluh serasa hatinya, sedih hatinya, semua orang mendapatkan surga kecuali dirinya. Semakin panas dingin badannya mendengar sabda Rasulullah demi melihat kefaqiran dirinya, ditambah lagi Rasulullah mensyaratkan siapa yang mau ikut berperang harus membawa alat dan kendaraan perang sendiri. Dilihat juga oleh Ulbah bin Zaid ketika dia duduk di Masjid Nabawi, dia melihat Rasulullah di kelilingi para sahabat, tiba-tiba Abu Bakar datang sambil membawa semua harta yang dia punya sejumlah 4000 dirham. Umar pun datang dengan membawa setengah hartanya. Sedangkan Utsman bin Affan, membawa seribu dinar dalam pakaiannya, kemudian ditaburkan di depan Rasulullah. Ia tambah lagi dengan 1000 unta beserta isinya (makanan, pakaian dan sebagainya), barang dagangannya yang datang dari Syam. 

      Tidak lama kemudian datang pula Abdurahman bin Auf, membawa 200 uqiyah perak. Datang pula ‘Abbas bin Abdul Mutholib (paman Rasulullah), Tholhah bin ‘Ubaidillah, Sa’ad bin Ubadah, Muhammad bin Maslamah, yang mereka semua berinfaq dengan harta yang dimiliki. Selain itu, datang juga orang-orang yang kurang berada membawa infaq semampunya, dimulai oleh ‘Ashim bin Adiy mebawa 70 wasaq kurma, ada yang membawa 2 mud bahkan 1 mud kurma, tidak satu pun kaum muslimin yang tidak memberi kecuali kaum munafiqin. 

       Apa yang dirasakan oleh Ulbah selain kesedihan yang sangat. Apa yang bisa diperbuat sementara ia tidak punya apa-apa, sementara orang berbondong berinfaq. Melihat hal itu pulanglah Ulbah membawa semua kesedihannya. Di zaman sekarang ribuan jutaan orang membawa kesedihan dunia, Ulbah pulang membawa kesedihan karena teringat akhirat. Adakah di zaman sekarang ini sosok seperti Ulbah..?? Memikirkan kemana nanti hendak dia di tempatkan di akhirat, apakah di surga ataukah neraka, kalau ternyata di surga di tempat yang mana, di tingkatan ke berapa dan bersama-sama siapa? 

       Ketika senja telah beralu dan malam pun tiba, Ulbah berusaha memejamkan matanya, tapi bagaimana akan dipejamkan matanya sementara hati masih berdebar-debar, pikiran masih galau, apa yang bisa dilakukannya selain membolak-balikkan badannya di atas tikar yang lusuh hingga tengah malam. Akhirnya dia bangkit, timbul sebuah ide, sebuah pemikiran dalam dirinya, yang kiranya apabila dia melaksanakan idenya ini mudah-mudahan dapat mengurangi kegundahan hatinya. Lantas Ulbah berwudhu dan melaksanakan shalat malam, apalagi yang bisa dilakukan oleh orang yang sengsara dan bersedih hati selain bermunajat kepada Alloh Yang Maha Pemurah..?? Bagi orang yang mendapatkan kesusahan kecuali dia mengadukan kepada Sang Khaliq. Ulbah pun berdo’a:
“Ya Alloh, engkau perintahkan kami untuk berjihad, engkau perintahkan kami untuk berangkat ke Tabuk, sedangkan engkau tidak memberikan aku sesuatu apapun untuk bekal berangkat berperang bersama Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam-Mu, maka malam ini saksikanlah ya Alloh...sesungguhnya aku telah bersedekah kepada setiap muslim dari perlakuan zhalim mereka terhadap diriku, maka inilah kehormatanku aku infaqkan di jalan-Mu, jika ada seorang muslim menghinakan dan merendahkan diriku, maka aku infaqkan itu semua di jalanMu Ya Alloh..tidak ada yang dapat aku infaqkan sebagaimana orang lain telah berinfaq, kalau sekiranya aku punya sebagaimana mereka punya akan aku infaqkan untukMu, maka yang aku punya hanya kehormatan sebagai seorang muslim, kalau engkau bisa menerimanya, maka saksikanlah kehormatan ini aku sedekahkan untukMu malam ini…”

      Alangkah jernihnya doa tersebut, keluar dari hati seseorang yang tidak punya apapun di dunia ini melainkan kehormatan, alangkah teduhnya ucapan di malam hari yang gelap, terangkat doanya ke langit ke tujuh, menggetarkan Arsy Allah Ta’ala, semua sedekah tidak sehebat sedekahnya. Kejadian di tempat yang sepi tersebut dikabarkan oleh Allah kepada Rasulullah melalui Malaikat Jibril. Dan keesokan harinya Rasulullah berkata pada Ulbah bin Zaid seusai shalat subuh saat orang-orang masih berada di dalam masjid, “Bergembiralah Ulbah. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tanganNya, sesungguhnya sedekahmu tadi malam telah ditetapkan sebagai sedekah yang diterima.” Bagaikan aliran listrik yang langsung mengalir ke jantung Ulbah bin Zaid, laksana halilintar dahsyat menghantam dirinya, karena dia sama sekali tidak mengira, cahaya kebahagiaan langsung membias dari wajahnya. Maka Nabi pun menyerahkan 6 ekor unta kepada Ulbah bin Ziad dan tujuh orang temannya yang juga fakir untuk berangkat ke medan jihad, Perang Tabuk.

       Wahai saudaraku, Semoga Allah merahmati Ulbah bin Zaid, jadikanlah ia sebagai uswah (suri tauladan) bagi kita semua. Dengan kisahnya kita belajar, tidak selamanya memberi harus dengan materi, karena Rasulullah menyebutkan tasbih adalah sedekah, tersenyum adalah sedekah, suapan makanan kemulut istri adalah sedekah. Permasalahannya, apakah sedekah-sedekah yang seluas dan sebanyak itu diterima oleh Allah? Sudahkah kita niatkan semua yang kita lakukan untuk sedekah, untuk Allah? Sudahkah kita berusaha untuk ikhlas dalam segala tindakan? Maka jawabannya tentu hanya ada pada diri kita masing-masing.

Oleh: Abu Aiman dan Ummu Aiman

Sumber:
1. Kajian Al Ustadz Armen Halim Naro, Lc. dalam tema Kedermawanan Sang Fakir
2. http://elhaniyya.blogspot.com/2011/02/ulbah-bin-zaid.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar