Jumat, 29 Juni 2012

AKU & PRESIDEN SBY

           Aku adalah segelincir hamba Allah yang ditaqdirkan hidup dibumi Indonesia. Sedangkan SBY adalah presiden dan pemimpinku. Dan aku ketahui beliau adalah seorang muslim, dan aku belum melihat beliau melakukan tindakan kekufuran yang nyata. Kewajibanku, sebagai anak bangsa adalah selalu mentaati perintahnya selama perintah itu tidak melanggar Syari’at Tuhanku.

           Allah Yang Maha Mulia berfirman, yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan Taatilah Rosul-Nya dan taatilah Ulil aamri diantara kalian”. (QS.An-nisa: 59)
Ayat ini adalah sangat jelas bahwasanya Allah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman untuk mentaati Alllah dan Rosul-Nya serta mentaati Ulil Amri.

       Diterangkan oleh Ibnu Katsir didalam kitab tafsirnya, bahwa mereka ulil amri adalah ‘ulama dan ‘Umaro’(pemerintah). Ketaatan kepada Allah dan Rosul-Nya adalah ketaatan mutlaq. Sedangkan ketaatan kepada pemerintah adalah kataatan yang tidak meutlaq. Artinya, selama pemerintahnnya itu tidak bertentangan denga perintah Allah dan Rosul-Nya, maka kita wajib mentaatinya.
Nabi kita juga telah bersabda dalam hadist dari Irbath bin Sariyah:
والسمعع و الطاعة وان تعمر عليكم عبد
“Dengar dan taatilah! Walaupun yang memerintahkan kalian adalah seorang budak”(HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi)
          Sebagai seorang muslim, mestinya berbaik sangka kepada Allah dan Rosul-Nya. Tidak mungkin Allah dan Rosul-Nya memerintahkan hamba-Nya agar hamba-Nya itu celaka. Itu sangat tidak mungkin.
Karena hal itu bertentrangan denga sifat Rahmat Alllah dan juga bertentangan dengan sifat Rosul-Nya yang sangat mengiginkan kebaikan kepada umatnya.

          Tapi para pembaca yang budiman, aku sngat sedih. Era Reformasi telah merubah wajah umat Islam di negeriku ini. Sehingga Era Reformasi diartikulasikan sebagai kebebasan dalam berfikir, kebebasan dalam berpendapat tanpa ada batasnya. Yang itu tidak boleh terjadi pada insan yang beradab.

       Mimbar-Mimbar jum’at yang semetinya dijadikan sarana untuk menasehati umat, menyeru kaum muslimin agar selalu beriman dan bertaqwa kepada Allah, telah berubah menjadi ajang untuk menguliti dan menelanjangi aib-aib penguasa. Juga sumpah sarapah, caci makian dan kata-kata kotor lainnya tanpa ada rasa adab santun sedikitpun. Wallahi! Perbuatan semacam ini, tidak ada manfaatnya sedikitpun, baik bagi para penguasa ataupun rakyatnya. Justru yang akan terjadi adalah semakin dendamlah penguasa kepada rakyatnya. Dan rakyat akan semakin benci dan murka kepada pemerintahnya. Ya Allah, ampunilah kami.

       Saudara-saudarku seaqidah yang saya hormati. Kita tidak memungkiri banyak terjadi kesalahan dan kekurangan pada para penguasa. Akan tetapi, bukan berarti kita boleh untuk keluar dari ketaatan dalam perkara yang ma’ruf(baik]
Nabi kita Muhammad salallahu alaihi wasalam telah bersabda:
اسسمع و اطع وان اخذ مالك و ضرب ظهرك
“Dengar dan Taailah sekalian hartamu diambil dan punggumu dipukul”. (HR. Muslim)
Hadist ini memberikan pengertian kalaupun sampai terjadi penguasa itu merampas harta kita dan memukul punggung kita, maka kita tetap wajib mentaati dalam perkara yang ma’ruf. Sedangkan hak-hak kita yang dirampas oleh penguasa maka kita minta kepda Allah balasannya. Jadi, penguasa itu wajib di taati dalam bingkai ketaatan kepada Allag dan Rosul-Nya.
Nabi bersabda:
من اطاع الامير فقد اطاعني ومن عصاالامير فقد عصاني
“Barangsipa taat kepada penguasa, maka dia telah taat kepadaku, dan barang siapa yang durhaka kepada penguasa berarti dia telah durhaka kepadaku”. (HR. Bukhori dan Muslim).
Nabi juga bersada:
من اطاعني فقد اطاع الله ومن عصاني فقد عصى الله ومن يطع المير فقد اطاعني ومن يعص المير فقد عصاني
“Barangsiapa taat kepadaku, berarti dia trelah mentaati Allah, dan barangsiapa durhaka kepadaku berarti dia telah durhaka kepada Allah, dan barangsiapa yang taat kepada pemimpin berarti dia telah taat kepadaku, dan barangsiapa yang durhaka kepada pemimpin berarti dia telah durhaka kepadaku”. (HR. Bukhori-Muslim)
Dengan demikin, menjadi jelaslah, bahwa kesalahan penguasa itu bukan berarti kita membolehkan kita kudeta dan keluar dati ketaatan. Dari Auf bin Malik dia barkata bahwa Rosulullah bersabda:
الا من ولي عليه وال فراه ياتي شيئا من معصية الله فاليكره الدي ياتي من معصية الله ولا ينز عن يدا من طاعة
“Ketauhilah! Bahwa barangsipa dipimpim oleh seorang penguasa lalu melihat penguasa tersebut, maka ia membenci perbuatan maksiat tersebut dan tidak melepaskan ketaatan kepadanya”. (HR. Muslim)
Para pembaca yang budiman, mungkin masih ada yang belum puas dengan hadist-hadist diatas sebagai hujjah untuk taat kepada penguasa walaupun ada kedhaliman pada penguasa tersebut.

      Baiklah, sekarang bandingkan. Lebih dhalim mana antara penguasa SBY dengan hajjaj bib Yusuf. Barang kali, semua telah tahu bagaimana kejam dan kedhalimannya. Sekian banyak kaum muslim bahkan para ‘Ulama yang mati ditangan Hajja ini. Sampai-sampai seorang tabi’ain yang bernama Zubair bin ‘Adi beliau mendatangi Annas bin Malik -sisa sahabat yang masih hidup pada masa itu- Zubair bin ‘Adi mengeluhkan kajamnya penguasa Hajjaj bin Yusuf. Maka Annas berkata kepadanya:
اصبرو فانه لا ياتي عليكم زمان الا والذي بعده شر منه حتى تلقو ربكم سمعته من نبيكم صل الله عليه وسلم
“Bersabarlah kalian. Karena sesungguhnya tidak datang kepada kalian suatu zaman melainkan setelahnya lebih buruk dari sebelumnya hingga kilian menemua Robbmu (meninggal dunia). Aku telah mendengarnya dari Nabi kalian”. (HR. Bukhori)

         Lihatlah perkataan sahabat yang milia ini, denga kedalam dan keluasan ilamunya, Annas tidak gegabah dalam menentukan keputusan hukum. Karena beliau memilliki pandangan jauh kedepan. Serta pengetahuaan beliau terhadap realita yang dialami oleh manusia. Kalau seandainya Annas memerintahkan kepada Zubair bin ‘Adi untuk memberontak, mungkin akan terjadi kerusakan yang lebih besar dan korbanya akan semakin banyak berjatuhan.

        Sekarang, bandingkan dengan Presiden kita SBY. Pernahkah harta kita diambil olehnya? Pernahkah punggung kita dipukul olehnya? Pernahkah beliau membantai kaum muslimin? Perahkah membunuh para Ulama’? Kalau seandainya kita jawab belum pernah. Maka alasan apa yang menghalangi kita untuk taat kepadanya?

Pembaca yang budiman, demikianlah. Semoga risalah ini bermanfaat.

Oleh: Abdurrohim
Sumber: Buletin Istiqomah, manhaj, edisi 020, oleh Ustadz Abu Adib

Tidak ada komentar:

Posting Komentar