Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi didepan nanti. Bahkan ketika kedipan mata dan hembusan nafas yang keluar dari tubuh yang fana hilang dihisap oleh alam sekitar. Kita tak pernah tahu, apakah masih ada kesempatan untuk sekali lagi mengedipkan mata. Bahkan kita tak bisa menjamin pada dirii sendiri untuk sekedar bisa menarik nafas yang sama pada detik berikutnya.
Wahai saudaraku, harimu yang kemarin telah berlalu sebagai saksi yang adil, disusul hari baru lainnya kepadamu. Jikalau kemarin engkau melakukan kesalahan, maka gantilah dengan kebaikan, niscaya engkau dipuji. Harimu, jika engkau cela, maka manfaatnya kembali kepadamu, sedang hari kemarin tidak lagi kembali kepadamu. Janganlah engkau menunda mengerjakan kebaikan kehari esok, karena barangkali hari esok datang, sedang engkau telah mati. Sungguh dunia akan pergi meninggalkan kita, sedang akhirat pastii kedatangannya.
Umar bin Abdul ‘Aziz berkata, “Sesungguhnya dunia bukan negeri tetap bagi kalian, karena Allah telah menetapkan kehancuran baginya dan memutuskan kepergian bagi penghuninya. Betapa banyak penghuni yang dipercayai tidak lama lagi hancur dan betapa banyak orang mukmin yang bergembira tidak lama lagi akan pergi. Karena itu, hendaklah kalian –semoga Allah merahmati kalian- memperbaiki kepergian kalian darinya dengan kendaraan paling baik yang ada pada kalian dan berbekallah, sesungguhnya bekal yang paling baik ialah taqwa.”
Wahai saudaraku, Umar bin Abdul ‘Aziz bukanlah orang biasa, beliau adalah pemimpin kaum muslimin, amirul mukminin. Umar adalah orang yang adil lagi arif dalam masa kepemimpinannya. Masa kepemimpinannya, beliau jadikan sebuah ladang yang subur, beliau bersegera dan tidak menunda-nunda tugasnya agar dapat memanen pahala. Beliau menjalankan amanah yang disandarkan dengan sebaik-baiknya, itu semua karena beliau mencintai akhirat. Dan karena cintanya yang begitu besar terhadap akhirat, beliau lepaskan rantai-rantaii kemewahan dunia meski beliau telah menjadi khalifah. Mari kita simak kisahnya..
Amirul Mukminin Umar bin Abdul ‘Aziz membersihkan tangannya darii mengebumikan jenazah khalifah sebelumnya yaitu Sulaiman bin Abdul Malik. Tiba-tiba beliau mendengar suara gemuruh tanah disekitarnya, lalu beliau berkata, “Ada apa ini?” Mereka menjawab, “Ini adalah kendaraan-kendaraan khalifah wahai amirul mukminin, telah dipersiapkan agar anda sudi menaikinya.” Beliau memandang dengan sebelah matanya dan berkata dengan terputus-putus karena lelahnya dan rasa kantuknya setelah semalaman tidak tidur, “Apa urusanku dengan kendaraan ini?! Jauhkan ia dariku, semoga Allah memberkahi kalian. Dekatkan saja bighal milikku, karena itu cukup bagiku.” Lihatlah wahai saudaraku, betapa zuhudnya beliau dalam urusan dunia, beliau tidak ingin bermewah-mewah dengan menaiki kendaraan khusus khalifah. Namun kejadian berikutnya, menjadikan kita tahu bahwa beliau tidak ingin ada jarak dengan orang-orang disekitarnya, sehingga tidak ada rasa takut ketika mereka akan mendekat pada beliau. Mari kita lanjutkan kisahnya..
Belum sempat beliau meluruskan posisi punggungnya di atas bighal, tiba-tiba datanglah kepala prajurit yang berjalan mengawal di depan beliau beserta beberapa pasukan yang berjalan berbaris di kanan dan di kiri beliau, sedang di tangan mereka tergenggam tombak yang berkilau. Khalifah Umar bin Abdul ‘Aziz berkata kepada kepala prajurit, “Aku tidak membutuhkan anda dan juga mereka. Aku hanyalah orang biasa dari kaum muslimin, berjalan sebagaimana mereka berjalan.”
Kemudian beliau berjalan dan orang-orang pun berjalan hingga sampai ke masjid, lalu dikumandangkannya adzan serta seruan “shalat jama’ah... shalat jama’ah...” Lalu manusia memenuhi setiap sisi di dalam masjid. Setelah manusia berkumpul, Umar bin Abdul ‘Aziz naik mimbar dan berkhutbah. Beliau memuji Allah dan menyanjung-Nyalalu bershalawat atas Nabi kemudian berkata:
“Wahai manusia, sesungguhnya aku telah mendapatkan musibah dengan urusan ini (yakni diangkatnya beliau menjadi khalifah, ini menandakan bahwa beliau tidaklah menjadika dunia sebagai tujuan hidupnya, yaitu memperoleh kekuasaan), tanpa pertimbangan dariku, tanpa aku memintanya, tanpa musyawarah anatara kaum muslimin, maka aku lepaskan bai’at yang melilit leher kalian dariku.. lalu silakan kalian memilih pemimpin lagi yang kalian ridhai.”
Maka manusia berteriak dengan satu suara, “Kami memilih anda wahai Amirul Mukminin dan kami ridha kepada anda. Kami serahkan urusan kami dengan harapan keberuntungan dan keberkahan.” Kemudian beliau melihat suara-suara mulai tenang dan hati pun mulai tertata, maka beliau bertahmid kepada Allah untuk kesekian kalinya dan mengucapkan shalawat atas Nabi Muhammad sebagai hamba dan utusan-Nya.
Beliau menganjurkan manusia untuk senantiasa bertaqwa kepada Allah, zuhud di dunia, berharap kenikmatan akhirat serta mengingatkan kepada mereka tentang kematian. Hingga sanggup melunakkan hati yang keras dan meneteskan air mata orang yang sadar akan dosanya. Begitulah nasehat yang keluar dari hati akan sampai pada hati orang yang mendengarnya.
Beliau mengeraskan suara agar semua orang mendengarnya, “.... Wahai manusia, taatilah aku selagi aku mentaati Allah dalam memerintah kalian. Namun jika aku bermaksiat kepada Allah, maka tiada kewajiban sedikitpun bagi kalian untuk mentaatiku.” Selanjutnya beliau turun dari mimbar dan beranjak menuju rumahnya dan masuk ke dalam kamarnya. Beliau ingin sekali beristirahat barang sejenak setelah menguras tenaganya karena banyaknya kesibukan pasca wafatnya khalifah sebelumnya.
Akan tetapi, belum lagi lurus punggungnya di tempat tidur, tiba-tiba datanglah putra beliau yang bernama Abdul Malik yang saat itu berusia 17 tahun, ia berkata, “Apa yang ingin anda lakukan wahai Amirul Mukminin?” Umar menjawab, “Wahai anakku, aku ingin memejamkan mata barang sejenak karena sudah tak ada lagi tenaga yang tersisa.” Anaknya kembali berkata, “Apakah anda akan tidur sebelum mengembalikan hak orang-orang yang didzalimi wahai Amirul Mukminin?” Umar bin Abdul ‘Aziz kembali menjawab, “Wahai anakku, aku telah begadang mengurus pemakaman pamanmu, Sulaiman, nanti jika telah datang waktu dzuhur aku akan shalat bersama manusia dan akan aku kembalikan hal orang-orang yang didzalimi kepada pemiliknya, insyaallah.” Abdul Malik menimpali, “Siapa yang bisa menjamin anda masih hidup hingga waktu dzuhur wahai Amirul Mukminin?”
Kata-kata Abdul Malik telah menggugah semangat sang ayah, maka hilanglah rasa kantuknya, kembalilah semua kekuatan dan tekad pada jasadnya yang telah lelah. Umar berkata, “Mendekatlah engkau nak!” Lalu mendekatlah putra beliau, kemudian beliau merangkul dan mencium keningnya sembari berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah mengeluarkan dari tulang sulbiku seorang anak yang dapat membantu melaksanakan agamaku.”
Kemudian beliau bangun dan memerintahkan untuk menyeru kepada manusia, “Barangsiapa yang merasa didzalimi hendaklah segera lapor!”
Itulah Umar bin Abdul ‘Aziz begitu bersemangat meniti setiap detik hidupnya untuk melakukan ketaatan kepada Allah, yaitu menjalankan amanahnya sebagai pemimpin dengan baik, setelah sebelumnya beliau hampir terlalaikan namun segera diingatkan oleh anaknya Abdul Malik yang dikenal sebagai ahli ibadah.
Wahai saudaraku, mari kita contoh sikap Umar bin Abdul ‘Aziz yang tidak menjadikan dunia sebagai tujuan hidupnya, yang tidak ingin melewatkan setiap detik waktu kehidupannya dengan hal yang sia-sia, tanpa hal-hal yang berkaitan dengan bertaqwa kepada Allah.
Sungguh dunia akan pergi meninggalkan kita, sedangkan akhirat pasti akan datang. Masing-masing dari dunia dan akhirat memiliki anak-anak, karenanya, hendaklah kalian menjadi anak-anak akhirat dan jangan menjadi anak-anak dunia, karena hari ini adalah hari amal tanpa hisab, sedang kelak adalah hari hisab tanpa amal.
(Ali bin Abi Thalib)
Abu Aiman dan Ummu Aiman
Sumber:
1. MEREKA ADALAH PARA TABI’IN, karya DR.ABDURRAHMAN RA’FAT BASYA hal. 79-81.
2. Syarah Arba’in An Nawawi, karya Yazid bin Abdul Qadir Jawas, hal. 796,807.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar