Oleh: Ust. Iim Rosyadi
عَنْ أَبِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ عَبْدُ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قاَلَ : سَمِعْتُ رَسُوْلُ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ يَقُوْلُ : بُنِيَ الْإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ : شَهاَدَةُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَ أَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ وَإِقاَمُ الصَّلاَةَ وَ إِيْتاَءُ الزَّكَاةَ وَحَجُّ الْبَيْتِ وَصَوْمُ رَمَضَانَ. رواه الترمذي ومسلم
“Dari Abu Abdurrahman, Abdullah bin Umar bin Khathab ra dia berkata, “Saya mendengar Rasulullah saw bersabda: “Islam dibangun di atas lima perkara: Bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak diibadahi selain Allah dan bahwa Nabi Muhammad utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan haji dan puasa Ramadlon.” HR. Tirmidzi dan Muslim
Kita masih ingat ketika kita belajar di Sekolah Dasar, pelajaran pendidikan agama Islam yang menerangkan tentang rukun Islam. Kita semua tahu dan hafal rukun Islam yang lima, namun apakah kita semua cukup hanya dengan tahu dan hafal??? Tentu tidak.
Disamping hafal dan tahu juga pastinya seorang muslim wajib untuk mengerjakan semua rukun-rukun Islam di atas dengan semua konsekwensinya. Di dalam hadist Ibnu Umar diatas Rasulullah menyebutkan tentang keagungan lima perkara tersebut, bahwa Islam terbangun di atasnya. Sabda beliau “Islam dibangun di atas lima perkara,”. Artinya Islam hanya bisa tegak di atas lima perkara tersebut. Beliau hanya menyebutkan lima perkara ini karena semuanya merupakan asas bagi perkara yang lainnya. Adapun perkara lainnya mengikuti lima perkara ini. Hadist ini juga terdapat dalam kitab hadits Al Arba’in karya Imam besar An Nawawi.
Disamping hafal dan tahu juga pastinya seorang muslim wajib untuk mengerjakan semua rukun-rukun Islam di atas dengan semua konsekwensinya. Di dalam hadist Ibnu Umar diatas Rasulullah menyebutkan tentang keagungan lima perkara tersebut, bahwa Islam terbangun di atasnya. Sabda beliau “Islam dibangun di atas lima perkara,”. Artinya Islam hanya bisa tegak di atas lima perkara tersebut. Beliau hanya menyebutkan lima perkara ini karena semuanya merupakan asas bagi perkara yang lainnya. Adapun perkara lainnya mengikuti lima perkara ini. Hadist ini juga terdapat dalam kitab hadits Al Arba’in karya Imam besar An Nawawi.
Kelima rukun yang menjadi pondasi Islam ini, yang pertama adalah dua kalimat syahadat yang merupakan asas paling dasar. Rukun lainnya dan perkara-perkara lainnya mengikuti rukun ini. Karena semuanya dan amal-amal lainnya tidaklah bermanfaat jika tidak didasari oleh kedua syahadat ini. Kedua kalimat ini saling berkaitan. Konsekuensi syahadat Laa ilaaha illallaah adalah ibadah hanya kepada Allah dan meniadakan sesembahan-sesembahan selain-Nya. Dan konsekuensi syahadat Muhammad Rasulullah adalah beribadah harus mengikuti ajaran sunnah-sunnah Rasulullah. Kedua asas ini harus mendasari setiap amal kita dalam beribadah yaitu memurnikan keikhlasan kepada Allah semata dan memurnikan ittiba’ kepada Rasulullah.
Rukun Islam yang paling penting setelah dua kalimat syahadah adalah mendirikan shalat. Rasulullah telah mensifatinya sebagai tiang Islam. Sebagaiman wasiat Rasulullah kepada Muadz bin Jabal ketika Muadz meminta wasiat tentang amal-amal yang dapat memasukkan kedalam urge, maka Rasulullah menyebutkan diantaranya adalah shalat. Beliau juga memberitahukan bahwa shalat merupakan perkara pertama agama yang akan hilang. Dan perkara pertama yang akan dihitung dari seorang hamba pada hari kiamat. Silahkan lihat dalam As Silsilah ash Shahihah karya Al Bani (1739, 1358 dan 1748). Dan dengan shalat bisa dibedakan antara seorang muslim dan kafir.
Mendirikan shalat ada dua keadaan: Pertama: Wajib, yaitu menunaikan minimal sesuai dengan tata-cara yang diwajibkan sehingga dia dianggap telah menjalannkan kewajiban. Kedua: mustahab, yaitu menyempurnakannya dengan melakukan segala hal yang disunahkan di dalamnya. Perkara shalat sangat penting sehingga Rasulullah bersabda dalam hadits shahihnya riwayat sahabat Muadz dengan beberapa hadits lainnya sebagai syahid (penguat), yaitu;
رَأْسُ الْأَمْرِ الْإِسْلاَمُ وَعُمُوْدُهُ الصَّلاَةُ
“Bagaian utama segala sesuatu adalah Islam, sedang pilarnya adalah shalat,”
Zakat adalah suatu kewajiban yang selalu Allah sandingkan dengan shalat di dalam Al Qur’an maupun sunnah Rasul. Banyak ayat-ayat Al Qur’an yang menyebutkan penyebutuan shalat dengan zakat berurutan sebagaimana firman Allah dalam surat Al Bayyinah; 5 yang artinya:
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.”
Dan zakat adalah ibadah ibadah yang bersifat materi yang manfaatnya menyebar (tidak terbatas untuk pelakunya saja). Allah telah mewajibakan zakat pada harta orang-orang kaya dengan sifat yang menguntungkan orang miskin namun tidak merugikan orang kaya, sebab Allah mewajibkan hanya sejumlah kecil 2,5 % dari harta yang banyak milik orang kaya.
Puasa Ramadhan adalah ibadah fisik. Dan puasa merupakan rahasia antara Allah dengan hamba, tidak ada yang melihatnya kecuali hanya Allah. Sebab diantara manusia ada yang tidak berpuasa dibulan Ramadhon dan orang lain menyangkanya puasa. Bisa jadi orang yang sedang berpuasa sunnah namun ada orang lain menyangkanya tidak puasa. Karena itulah Rasulullah mengabarkan dalam hadits shahih bahwa seorang muslim akan diberikan balasan atas amalnya, satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kali lipatnya hingga tuju ratus kali lipat. Kemudian Allah berfirman :
إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَناَ أَجْزِي بِهِ
“Kecuali puasa, sesungguhnya puasa adalah milik-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya.” (HR. Muslim)
Artinya Allah akan memberikan pahala atas puasa seorang hamba dengan balasan yang tidak ada batasnya.
Semua amal hamba adalah untuk Allah. Sebagaimana firman-Nya yang
Katakanlah: “Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.”Tiada sekutu bagiNya; dan demikian Itulah yang diperintahkan kepadaku dan Aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)". (QS. Al Anam: 162-163)
Namun Allah mengkhususkan puasa dalam hadits ini sebagai ibadah milik Allah karena tersembunyinya ibadah ini, tidak ada yang melihatnya kecuali Allah.
Alhamdulillah saat ini kita memasuki bulan Rajab dimana bulan ini merupakan salah satu bulan Allah yang mulia dari empat bulan yang Allah sebutkan dalam firman-Nya surat Al Taubah: 36 yang artinya:
“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, Maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan Ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.”
Dan diantara bulan-bulan Haram (mulia) adalah bulan Zulkaidah, Zulhijjah, Muharram dan Rajab. Kita memohon kepada Allah mudah-mudahan pada bulan Rajab dan Sya’ban kita mendapatkan keberkahannya dan Allah menyampaikan umur kita kepada bulan Ramadhon. Amin
Dan ibadah haji ke Baitullah adalah ibadah materi dan fisik. Allah mewajibkannya sekali seumur hidup bagi seorang muslim yang mampu melaksanakannya. Rasulullah menyebutkan tentang keutamaan hajidalam haditsnya :
اَلْعُمْرَةُ إِلىَ الْعُمْرَةِ كَفاَّرَةٌ لِمَا بَيْنَهُماَ وَالْحَجُّ الْمَبْرُوْرُ لَيْسَ لَهُ جَزاَءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ
“Umrah yang satu ke umrah yang lainnya merupakan kafarah (penghapus) bagi dosa-dosa yang ada pada keduannya. Dan haji mabrur tidak ada balasannya melainkan surga.”(HR. Muslim: 1349)
Hadits Ibnu Umar ini redaksinaya dengan mendahulukan haji dari puasa, namun ada juga riwayat hadits yang shahih dalah shahih Muslim dari Ibnu Umar bahwa puasa disebutkan dahulu sebelum haji.
Inilah kelima rukun Islam yang wajib diketahui dan diamalkan oleh setiap muslim, dan tidak ada cara lain untuk menjadi seorang muslim yang kaffah (sempurna) kecuali dengan sungguh-sungguh menegakkan Islam dengan kelima rukun di atas. dan setiap kebaikan akan dapat mendatangkan pahala dan ramat Allah juga dapat menghapuskan dosa-dosa kita selagi kita jauhi dosa besar, Akhirnya kita berdo’a memohon kepada Allah SWT kekuatan dan keiklhasan untuk bisa melaksanakan kelima pilar diatas. Wallahu a’lam
Oleh :Iimrosyadi
Disarikan dari kitab:
Syarah Haidts Arbai’in an Nawawi
Ditulis oleh
Syaikh ‘Abdul Muhsin bin Hamd al ‘Abbad al Badr
Tidak ada komentar:
Posting Komentar