Selasa, 29 Mei 2012

Urgensi Belajar Keimanan dan Menanyakan ILmu kepada Ahlinya

Oleh: Ust. Bambang Tri Wantoro

Diriwayatkan dari Jundub bin Abdillah radhiyallahu’anhu, ia berkata, “ Kami pernah bersama rasulullah shallallahu’alaihi wasallam ketika kami masih muda mendekati usia baligh. Kami belajar kepada beliau tentang keimanan sebelum kami belajar al-Qur an. Selanjutnya, kami belajar al-Qur an dan dengannya keimanan kami semakin bertambah (HR. ibnu majah).
Jundub menuturkan kepada kita semua satu sisi pembelajaran yang telah dilupakan oleh kebanyakan penuntut ilmu masa sekarang ini, banyak majelis ilmu yang meninggalkan pembelajaran keimanan berikut masalah-masalahnya. Sehingga kita jumpai sebagian penuntut ilmu mengira bahwa representasi ilmu adalah mempelajari hukum-hukum dan ibadah semata, menghimpun pendapat ulama’ dan perselisihan di antara mereka, yang kemudian menjadikan lupa dengan pondasi dan akar masalah, yaitu akidah Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah. Setelah mengetahui hal ini kita dapat memberikan penilaian obyektif, yang mana terkadang terjadi kesenjangan antara ilmu yang dibawa sebagian orang dengan tingkah laku kesehariannya, sehingga perilaku tidak mencerminkan ilmunya.
Generasi salaf memahami betul hakekat ini, mari kita simak apa yang dikatakan ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu,
“ Ilmu (terlihat) bukan karena banyaknya riwayat, akan tetapi (tampak) dengan rasa takut kepada Allah “. Imam malik bin anas juga berkata, “ Ilmu dan hikmah adalah cahaya, yang dengannya Allah memberikan petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya. Ilmu tidak hanya diperoleh dengan penguasaan banyak masalah “.
Diriwayatkan dari Abu Darda’ radhiyallahu’anhu, ia berkata, “ Kami pernah bersama rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, beliau mengarahkan pandangannya kelangit, kemudian bersabda, “ Sekaranglah saatnya ilmu dicabut dari manusia, hingga tidak ada sedikitpun yang tersisa untuk mereka”, Ziyad bin Lubaid al-Anshari berkata, “ Wahai rasulullah, bagaimana mungkin ilmu dicabut dari kami sedangkan kami membaca al-Qur an, dan demi Allah kami akan selalu membacanya dan membacakannya pada istri dan anak-anak kami “. Beliau pun bersabda, “ sungguh wahai Ziyad (engkau belum mengetahui yang sebernarnya), meskipun aku menganggapmu sebagai salah satu orang madinah yang paling faham (tentang sunahku). Lihatlah Taurat dan Injil di kalangan yahudi dan nashrani, apa manfaatnya bagi mereka”… (setelah meriwayatkan hadits ini berkata Abu Darda), ” jika mau akan aku tunjukkan ilmu pertama yang diangkat dari manusia, yaitu kekhusyukan . Hampir-hampir kamu akan memasuki masjid tempat shalat berjama’ah tetapi kamu tidak melihat seorang pun di antara mereka yang khusyu’. Dan setelah khusyu’ dicabut adakah ilmu yang tersisa hari ini.
Imam Abdul A’la at-Taimi berkata, “ Barangsiapa yang diberi ilmu dan tidak membuatnya menangis (karena takut kepada Allah), maka sangat pantas ia untuk tidak diberi ilmu yang bermanfaat baginya. Sebab Allah mengangkat derajat para ulama. “ kemudian ia membaca firman Allah ta’ala, “ sesungguhnya orang-orang yang diberi ilmu sebelumnya jika al-Qur an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud. Dan mereka berkata, “ Maha suci Rabb kami, sesungguhnya janji Rabb kami pasti dipenuhi. Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’”(QS. Al-Isra’ :107-109)
Demikianlah para pendahulu kita dalam mempelajari agamanya, sehingga rasulullah shallallahu’alaihi wasallam juga memberikan kesaksian atas keilmuan mereka dalam sabda beliau, “ umatku yang paling mengasihi saudaranya adalah Abu Bakar, yang paling tegas terhadap perintah Allah adalah Umar, yang paling benar sikap malunya adalah Utsman, yang paling mengetahui tentang halal dan haram adalah Mu’adz bin Jabal, yang paling mengetahui tentang ilmu warits adalah Zaid bin Tsabit, yang paling bagus bacaan al-Qur annya adalah Ubay, dan setiap umat mempunyai kepercayaan, sedangkan orang kepercayaan umat ini adalah Abu Ubaidah bin Al-Jarrah” (HR. at-TIrmidzi dan ibnu Majah).
Sisi perhatian mereka terhadap ilmu dan kesegeraan untuk memperolehnya terlihat pada fakta, bahwa mayoritas sahabat yang banyak meriwayatkan hadits rasulullah adalah kaum muda, seperti Jabir bin Abdullah, Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Anas bin Malik, dan lainnya.
Yang demikian merupakan pelajaran sangat berharga untuk kita buka kembali, sehingga dengan banyaknya mengingat Allah melalui kajian-kajian ilmu syar’i ini akan menjadi faktor pemicu kekhusyukan dalam menghambakan diri kepada Allah, baik peribadatan makhdhah (rinci) atau ghairu Makhdhah (global), sebagaimana penjelasan para ulama’ bahwa berdzikir kepada Allah memiliki tiga tingkatan yang kita kenal, tingkat pertama adalah dengan lisan dan hati, kedua dengan hati saja, tingkat ketiga dengan lisan saja. Dua pertama adalah perbuatan syar’i, jika mengikuti yang diperintahkan oleh al-Qur an dan as-Sunah, sedangkan yang ketiga tercela karena sama sekali tidak ada kekhusukan, bahkan bisa menjadi orang yang munafiq, semoga Allah melindungi kita semua dari sifat tersebut.
Ilmu yang kita dapatkan tidak hanya dihafal dan ditanyakan, ilmu harus dipahami dan dimengerti, karena ilmu ini merupakan sarana agar pemahaman tersebut berubah menjadi amal yang shalih bagi pelakunya dan benar-benar menjadi ilmu yang bermanfaat. Pertanyaan penting dan jawaban berdasarkan sunah nabi shallallahu’alaihi wasallam mempunyai peranan penting dalam menuntut ilmu, sebuah riwayat yang bersumber dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu memberikan pelajaran pada kita semua, ia berkata, “ Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam mengirim satu pasukan dan mengangkat seorang dari kalangan Anshar sebagai pemimpinnya. Setelah mereka keluar, sang pemimpin merasakan keanehan pada pasukannya, ia bertanya kepada mereka, Bukankah rasulullah shallallahu’alaihi wasallam telah memerintahkan kalian telah memerintahkan kalian untuk taat kepadaku “, mereka menjawab, “ Benar”. Ia berkata, “ kumpulkan kayu bakar”. Ia meminta api dan menyalakan kayu bakar yang terkumpul, lalu ia berkata, “ Aku tegaskan kepada kalian agar kalian memasukinya (yaitu yang sudah dibakar). Orang-orang pun bersiap-siap untuk memasukinya. Seorang pemuda dari kalangan mereka berkata, “ Sesungguhnya (lebih baik) kalian lari menuju rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dari api itu. Maka janganlah kalian tergesa-gesa memasuki api tersebut hingga kalian bertemu dengan nabi shallallahu’alaihi wasallam. Bila beliau memerintahkan kalian untuk memasukinya, maka masuklah kalian, mereka pun pulang menghadap rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dan memberitahukan apa yang terjadi. Beliau pun bersabda, “ Sekiranya kalian memasukinya, maka kalian tidak akan keluar darinya selamanya. Sesungguhnya ketaatan itu untuk perkara yang makruf ”(HR. al-Bukhari 9/121, Ahmad, I : 82, no. 624, lihat pula ash-Sahih al-Musnad min Asbab an-Nuzul karya syaikh Muqbil bin Hadi).
Berkata syaikh ad-Duwaisiy mengomentari hadits tersebut, “ … Hendaknya posisi seseorang diukur oleh batasan-batasan syari’at yang terperinci. Pada diri pemuda terjadi kontradiksi antara perintah nabi shallallahu’alaihi wasallam untuk taat kepada sang pemimpin dan kondisinya yang mengikuti sunnah nabi untuk menghindar dari kemudharatan (yang berupa api). Si pemuda tidak mengatakan kepada teman-temannya, “ jangan kalian patuhi pemimpin “. Melainkan ia berkata, “ Janganlah kalian tergesa-gesa memasuki api tersebut hingga kalian bertemu dengan nabi shallallahu’alaihi wasallam. Bila beliau memerintahkan kalian untuk memasukinya, maka masuklah kalian “, sangat layak bagi seorang penuntut ilmu untuk bersikap proporsional dan bijak dalam menetapkan keputusan serta memperhatikan masalah dari setiap aspeknya “ (Syabab ash-Shabah halaman 64).
Sudah sepantasnya bagi kita semua untuk menanyakan ilmu yang mulia ini kepada para ahlinya, dan mengembalikan semua permasalahan kepada mereka yang lebih mengerti tentang al-Qur an dan as-Sunnah. Sebagaimana kisah di atas, dalam satu sisi diwajibkan mengikuti pemimpin di sisi lain wajib menghindar dari kemudharatan, maka dalam hal ini perintah nabi untuk taat kepada pemimpin batal Karena dibatalkan sendiri oleh pemimpin itu yang mengambil keputusan tidak berdasarkan sunah nabi shallallahu’alaihi wasallam, dan yang menurut imam ibnu katsir salah satu makna pemimpin (umara’) adalah ahli ilmu (ulama’) (lihat tafsir ibnu katsir, surat an-Nisa’ : 59).
Allahu a’lam bish-Shawab.
(Disarikan oleh Bambang Tri Wantoro, dari Syabab ash-Shahabah, karya DR. Muhammad ad-Duwaisi)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar