Rabu, 30 Mei 2012

AGAMA-AGAMA BANGSA ARAB JAHILIAYAH

Oleh: Ust. Bambang Tri Wantoro

Dahulu sebagian besar bangsa Arab mengikuti ajaran Isma’il alaihis Salam tatkala diserukan kepada mereka agama bapaknya, Ibrahim alaihis Salam. Mereka beribadah kepada Allah dan mentauhidkan-Nya. Setelah berlalu waktu yang cukup lama, mereka melupakan peringatan yang telah disampaikan kepada mereka, namun masih tersisa tauhid dan beberapa syi’ar dari agama Ibrahim, sampai datang Amru ibnu Luhay, pemimpin Khuza’ah.
Amru ibnu Luhay memiliki perilaku yang mulia, seperti ramah, jujur, dan semangat terhadap agama sehingga ia dicintai oleh manusia. Dia didekati oleh banyak orang, karena mereka mengira bahwa ia adalah ulama’ besar.
“ Kemudian ia pergi ke Syam, dan melihat penduduk Syam menyembah berhala, dia mengira (meyakini) bahwa Syam adalah tempat para rasul dan kitab, kemudian ia pun membawa berhala Hubal dan ditempatkan di tengah-tengah Ka’bah, lalu ia serukan kepada penduduk makkah untuk menyekutukan Allah, dan mereka pun menyambut seruannya. Tidak lama kemudian penduduk Hijaz mengikuti penduduk Makkah karena penduduk Makkah merupakan penguasa Ka’bah dan penghuni tanah Haram.
Di antara berhala mereka yang tertua adalah Manat, berhala ini ditempatkan di Masylal di daerah pantai laut merah dekat Qadid. Berhala mereka yang selanjutnya adalah Latta, ditempatkan di Tha’if, kemudian Uzza dan ditempatkan di Wadi Nakhlah. Tiga berhala tersebut merupakan berhala mereka yang terbesar. Setelah itu kemusyrikan semakin banyak, dan berhala melimpah di setiap tempat di Hijaz.
Disebutkan bahwa Amru ibnu Luhay memiliki Khadam dari jin yang mengabarkan kepadanya bahwa berhala-berhala kaum Nabi Nuh; Wud, Suwa, Yaghuts, Ya’uq, Nashr, terpendam di wilayah Jeddah. Kemudia Amru mendatangi tempat tersebut, dan membongkarnya lalu ia bawa ke Tihamah. Tatkala musim haji tiba, berhala-berhala tersebut diberikan kepada kabilah-kabilah yang dating. Lalu mereka membawa berhala-berhala tersebut ke negeri mereka, sehingga setiap kabilah, bahkan setiap rumah memiliki berhala. Masjidil Haram penuh dengan berhala, sehingga ketika rasulullah shallallahu’alaihi wasallam menaklukkan Makkah, di sekitar Ka’bah ada tiga ratus enam puluh berhala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam merusaknya hingga berjatuhan, kemudian beliau perintahkan untuk dikeluarkan dari masjid dan di bakar.
Demikianlah kemusyrikan dan peribadatan kepada berhala menjadi fenomena terbesar dalam agama masyarakat jahiliyah yang pernah mengaku berada di atas agama Ibrahim ‘alaihis Salam.
Mereka memiliki tradisi dan bentuk-bentuk peribadatan terhadap berhala, yang sebagian besar tradisi tersebut direkayasa oleh Amru ibnu Luhay. Mereka mengira bahwa hasil rekayasa tersebut merupakan perkara baru yang baik, bukan merupakan agama Ibrahim. Di antara bentuk-bentuk ibadah mereka terhadap berhala adalah :
1. Berdiam di sisi berhala, berlindung kepadanya, memuji dan meminta tolong kepadanya agar terpenuhi hajatnya, dengan berkeyakinan bahwa berhala-berhala itu dapat memberi syafa’at (pertolongan) di sisi Allah dan dapat merealisasikan tujuannya.
2. Berhaji kepadanya, berthawaf di sekelilingnya, dan merendahkan diri serta bersujud kepadanya.
3. Mendekatkan diri kepadanya dengan berbagai macam persembahan, mereka menyembelih untuk berhala-berhala tersebut dan dengan menyebut nama berhala-berhala tersebut. Dua jenis qurban inilah yang disebutkan Allah dalam firman-Nya; “ Dan diharamkan bagimu apa yang disembelih untuk berhala”,(al-Maidah : 3). Dan juga ;” dan janganlah kamu memakan binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya”,(al-An’am:121)
4. Di antara bentuk taqarrub mereka adalah mengkhususkan makanan dan minuman untuk berhala-berhala (membuat sesajen), juga mengkhususkan sebagian dari hasil tanaman dan binatang ternak mereka untuk berhala. Yang aneh adalah mereka juga mengkhususkan sebagian dari barang-barang tersebut juga untuk Allah. Karena berbagai factor mereka sering mengalihkan barang-barang yang dikhususkan untuk Allah kepada berhala, tetapi tidak sebaliknya. Allah ta’ala berfirman : “ Dan mereka memperuntukkan bagi Allah satu bagian dari tanaman dan ternak yang telah diciptakan Allah, lalu mereka berkata sesuai dengan perkataan mereka, ini untuk Allah dan ini untuk berhala-berhala kami, maka sajian yang diperuntukkan bagi berhala-berhala mereka, tidak sampai kepada Allah, dan sajian-sajian yang diperuntukkan bagi Allah, sajian itu sampai kepada berhala-berhala mereka. Amat buruklah ketetapan mereka itu,”(al-An’am:136)
5. Di antara bentuk taqarrub kepada berhala adalah bernadzar terhadap tanaman dan binatang ternak, Allah ta’ala berfirman :
“ Dan mereka mengatakan: inilah binatang ternak dan tanaman yang dilarang, tidak boleh memakannya kecuali orang-orang yang kami kehendaki, menurut anggapan mereka, dan ada binatang ternak yang diharamkan mengendarainya dan binatang ternak yan disebut nama Allah ketika menyembelihnya, semata-mata membuat kedustaan terhadap Allah”,(al-An’am:138)
6. Di antaranya pula adalah pensyari’atan adanya bahirah, saibah, washilah dan ham, imam ibnu Ishaq berkata :
“Bahirah adalah anak saibah. Saibah adalah onta betina yang sudah melahirkan sekitar sepuluh anak”
Demikian itulah, jika kita memiliki tradisi dan pelaksanaan ibadah yang tidak ada contohnya, berarti sama dengan tradisi-tradisi jahiliyah tersebut.
Allahua’lam.
(disarikan oleh Bambang Tri Wantoro dari Kitab Rohiq al-Makhtum karya syaikh shafiyurraghman al-Mubaarak Furi)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar