Oleh: Ust. M. Marzuki
Sudah menjadi keharusan bahkan kewajiban bagi seorang muslim yang beriman kepada Allah dan RosulNya untuk memiliki Aqidah Shohihah(yang benar), yang tidak tercampuri didalamnya keSyirikan dan keBid’ahan. Islam yang mulia ini jauh-jauh hari bahkan berabat-abat tahun silam telah mengajarkan melalui RosulNya yang mulia Salallhu ‘alaihi wasalam tentang Aqidah Shohihan ini, yaitu dengan mendakwahkan dakwah tauhid(mengesakan Allah) kepada umatnya.Tauhid dalam kepribadian muslim bagaikan pondasi pada sebuah bangunan atau bagiakan akar pada sebuah pohon, manakala pondasi dan akar tersebut tidak kuat, maka yang timbul adalah kerusakan dan bencana. Begitu halnya bagi seorang muslim apabila ibadahnya dan kehidupannya tanpa dilandasi dengan tauhid yang benar, maka yang timbul kerusakan dan bencana pula.Namun apabila pondasi pada sebuah bangunan, akar pada sebuah pohon, dan Aqidah Shohihah pada seorang muslim itu baik dan kokoh maka akan mendatangkan ketenangan, ketentraman, dan kebaikan(bagi dirinya dan yang lain).
“
Sudah menjadi keharusan bahkan kewajiban bagi seorang muslim yang beriman kepada Allah dan RosulNya untuk memiliki Aqidah Shohihah(yang benar), yang tidak tercampuri didalamnya keSyirikan dan keBid’ahan. Islam yang mulia ini jauh-jauh hari bahkan berabat-abat tahun silam telah mengajarkan melalui RosulNya yang mulia Salallhu ‘alaihi wasalam tentang Aqidah Shohihan ini, yaitu dengan mendakwahkan dakwah tauhid(mengesakan Allah) kepada umatnya.Tauhid dalam kepribadian muslim bagaikan pondasi pada sebuah bangunan atau bagiakan akar pada sebuah pohon, manakala pondasi dan akar tersebut tidak kuat, maka yang timbul adalah kerusakan dan bencana. Begitu halnya bagi seorang muslim apabila ibadahnya dan kehidupannya tanpa dilandasi dengan tauhid yang benar, maka yang timbul kerusakan dan bencana pula.Namun apabila pondasi pada sebuah bangunan, akar pada sebuah pohon, dan Aqidah Shohihah pada seorang muslim itu baik dan kokoh maka akan mendatangkan ketenangan, ketentraman, dan kebaikan(bagi dirinya dan yang lain).
“
MAKNA TAUHID
Menurut bahasa(etimologi) Tauhid adalah masdar yang diambil dari kata وحد- يوحد yang berarti ‘mengesakan/menjadikan sesuatu satu’.Dikatakan “tidaklah jama’ah itu keluar dari masjid kecuali Zaid” atau “tidaklah berdiri dari sebuah majlis kecuali Ahmad”. Jadi Zaid dan Ahmad disini kita sendirikan dari yang lain. Inilah makna Tauhid secara bahasa…
Sedangkan menurut istilah(terminologi) adalah mengesakan Allah dengan Tauhid Rububiyyah, Uluhiyyah, Assa’ wa Sifat.
PEMBAGIAN TAUHID
Tauhid ada tiga(3) sebagaimana devinisi Tauhid menurut istialah
1. Tauhid Rububiyyah
Tuhid Rububiyyah adalah mentauhidkan Allah dengan segala bentuk perbuatan dan apa yang dilakukan Allah, baik berupa menciptaan, pemberi rizki, menghidupkan dan mematikan makhluk, serta mengimani bahwa Dia adalah Raja, penguasa ,dan Rab yang mengatur segala sesuatu. Allah berfirman yang artinya:
Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu. (QS. AZ-Zumar:62)
Dan juga FirmanNya yang artinya:
dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).
Pembaca yang budiman, mengenai Tauhid Rububiyyah ini orang-orang Musyrik yang menyekutukan Allah dalam ibadah-pun mengaku ke-Esaan dan sifat RububiyyahNya. Sebagaimana Allah jelaskan sendiri dalam firmanNya pada surat Al-Mu’minun: 86-89 dan surat Yasin: 31-32
Walaupun mereka mengakui Tauhid Rububiyyah tetap saja mereka dalam kemusyrikan, karena disamping mereka mengakui bahwasannya Allah sajalah yang menciptakan segala sesuatu, pemberi rizki, pengatur alam semesta, mereka juga menetapkan berhala-berhala sebagai sesembahan mereka. Dengan perbuatan tersebut, maka mereka tetap dalam musyrik, sebagaimana Firman Allah yang artinya:
Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam Keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain). (QS.Yusuf:106)
2. TAUHID ULUHIYYAH (Pembahasan ini merujuk pada kitab Syra’ Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah, hal.152, oleh Al-Ustadz Zayid bin Abdul Qodir Jawas)
Tauhid Uluhiyyah dikatan juga Tauhid Ibadah yang berarti mentauhidkan Allah melaluai segala pekerjaan hamba, yang dengan cara itu mereka dapat mendekatkan diri kepada Allah, apabila hal itu di syariatkan oleh-Nya, seperti berdo’a, Khouf(takut), Roja’(mengharap), mahabbah(cinta), Dzabh(menyembelih), ber-Nazar, Isti’anah(meminta pertolongan), Isti’adah(meminta perlindungan), dan segala apa yang disyariatkan dan diperintahkan Allah Azzawajalla dengan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu apapun. Semua ibadah ini dan lainnya harus dilakukan hanya kepada Allah semata dan ikhlas karenaNya, dan ibadah itu tidak boleh dipalingkan kepada selain Allah. Sungguh, Allah tidak akan ridho jika dipersekutukan dengan suatu apapun. Apabila ibadah tersebut dipalingkan selain Allah, maka pelakunya jatuh kepada Syirik Akbar(syirik yang besar) dan tidak diampuni Dosanya kecuali denga taubat Nasuha(sebenar-benar taubat)
Allah ta’ala berfirman(QS.An-Nisa: 48.116)
3. TAUHID AL-ASMA’ WASH SHIFAT
Menetapkan nama-nama dan sifat-sifat Allah Azza wa jalla, baik yang Allah tetapkan sendiri maupun yang ditetapkan oleh Rosulullah Salallahu ‘alaihi wasalam dan mensucikan dari segala aib dan kekurangan, sebagaimana hal tersebut telah disucikan olah Allah Ta’ala dan Rosul-Nya Salallah Salallahu ‘alaihi wasallam, dengan tanpa Ta’wil, Takyif(menanyakan hakikatNya), Tamtsil(menyerupakan dengan makhluk)
Allah Ta’ala berfirman, yang artinya:
Dan bagi Allah nama-nama yang baik, maka berdo’alah denganNya.
Dan juga FirmanNya:
tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat (Qs. Asy-Syuura:11)
KALIMAT TAUHID
Kalimat Tauhid adalah lailahaillallah yang bermakna lama’budan bihaqqin illa Allah, yang artinya: Tidak ada sesembahan secara benar kecuali Allah. Kalimat tersebut berisikan menafikan(meniadakan)sesembahan selain Allah, dan menetapkan hanya untuk Allah semata.
Bagi setiap orang yang ingin memeluk agama Islam, hal pertama yang harus dilakukan adalah mengucapkan Dua kalimat Syahadat Asyhadualla ilaha illa Allah wa Ashaduanna Muhammadarrasullah. Setelah mengucapkan dua kalimat Syahadat tersebut seorang sudah menjadi muslim, sebuah gelar yang mulia, menjadi terhormat, haram darahnya untuk ditumpahkan, dan haram darahnya untuk dirampas. Subhanallah…
MENGENAL ALLAH DENGAN KALIMAT TAUHID
Ilmu yang paling mulia dan wajib dipelajari bagi seorang muslima dalah ma’ritullah(mengenal Allah), hal tersebut bisa kita ketahui dari syarata seseorang masuk islam, yaitu mengucapkan dua kaliamt syahadat.Seorang muslim telah bersaksi dengan kaliamt syahadat, maka yang pertama kali harus diketahui adalah makna kalimat tersebut sesui firman Allah ta’ala yang artinya:
Maka ketahuilah, bahwa Sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, Tuhan) selain Allah dan
mohonlah ampunan bagi dosamu(QS. Muhammad:19)
MAKNA KALIMAT TUAHID
Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Usaimin rahimahullah berkata, “Yang dimaksud dengan ma’rifatullah adalah mengenal Allah dengan hati, yang berkonsekuensi pada menerima apa yang diSyari’atkan-Nya, patuh dan tunduk pada-Nya, menentukan keputusan dengan syari’at yang dibawa RosulNya. Juga merenungkan ayat-ayat syar’iyyah yang terkandung dalam kitabullah dan Sunnah Rosul-Nya, menerangkan ayat-ayat kauniyyah(tanda-tanda kebesaran Allah di alam)yaitu segenap makhluk-Nya. Halitu karena setiap manusia tatkala merenungtentang ayat-ayat tersebut akan bertambah pengetahuannya tentang Allah sebagai pencipta(Al-Kholiq)dan yang disembah(Al-Illah)”(penjelasan kitab Tiga Landasan Utama.karya Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin))
DAKWAH TUHID DAKWAH PARA ROSUL
Para Rosul seluruhnya memulai dakwah mereka kepada Tauhid yang Allah perintahkan kepada mereka sepaya menyampaikan nya kepada umat manusia, Allah berfirman pada QS al-anbiya: 25
dan Kami tidak mengutus seorang Rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, Maka sembahlah olehmu sekalian akan aku".
Inilah Rosulullah berada dimekah selama 13 tahun untuk menyeru kaumnya kepada tauhid dan brdo’a kepadaNya semata bukan kepada selianNya. Diantara yang diserukan kepadanya adalah Firman Allah yang artinya:,
Katakanlah: "Sesungguhnya aku hanya menyembah Tuhanku dan aku tidak mempersekutukan sesuatupun dengan-Nya".
Rosulullah mengajarkan kepada para sahabatnya agar memulai dakwah mereka kepada umat manusia dengan tauhid. Beliau mengatakan kepada Sahabat Mu’adz ketika beliau mengutusnya ke Yaman, yang artinya:
Hendaklah mula-mula yang kamu serukan kepada mereka ialah bersaksi bahwa tiada Illah yang berhak disembah(secara benar) kecuali Allah.
Dalam satu Riwayat, “Hingga merekamentauhidkan Allah”(Muttafaqun ‘alaihi)
(Disaripatikan dari minhajul firqotunnajiyah, terjemah buku karya Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu, At-Tibyan Solo, 2010, hal:49-50)
PENGARUH TAUHID DALAM KEPRIBADIAN SEORANG MUSLIM
Tauhid mempunyai pengaruh yang besar sekali, sehingga terpantul dalam tingkah laku seseorang dan juga dalam jalan hidupnya. Ia merupakan motivator yang sangat kuat untuk melahirkan amal kebajikan dan memberantas kejahatan. Diantaranya adalah:
Iklas beramal untuk memperoleh pahala dan menghindarkan diri dari siksa di akherat, bukan menginginkan balasan dunia dan pujian manusia. Sebagaimana Allah memberitahukan tentang para hambaNya yang memberikan makan kepada orang lain padahal mereka sendiri menyukainya, sebagaimana firman Allah pada surat Al-Insan: 8-9.
Kuat, tegas dan tegar dalam pembenaran. Apa yang dijanjikan Allah untuk orang yang beriman menjadikan seseorang teguh dalam menjalankan perintahNhya, menjelaskan yang hak,mengajak kepada yang haq, menjelaskan yang bathil dan memeranginya. Jika tidak ada yang membantu maka diapun kuat karena Allah ,sebagaimana yang tercantum pada surat An-Anbiya:57-58.
Meremehkan bentuk- bentuk penampilan duniawi. Hal ini merupakan pengaruh dari makmurnya hati kerena keimanan bahwa dunia beserta kenikmatannya akan lenyap, sedangkan skherat adalah kehidupan kekal, damai abadi selamanya.Maka tidak masuk akal lebih memilih hal yang fana daripada yang kekal. Lihat surat Al-Ankabaut:64.
Lenyapnya kebencian dan kedengkian. Sesunggunya usaha mewujudkan keinginan nafsu tanpa melalui jalan yang benar menyebabkan kebencian dan kedengkian antar manusia. Sedangkan seseorang yang memiliki Tauhid yang benar akan menjadikan dirinya selalu mawas diri dan mengoreksi diri sendiri dalam setiap gerak-geriknya demi mendapatkan pahalaNya dan menjauhi siksaNya.(Disaripatikan dari kitab Tauhid jilid ke2, oleh Tim Ahli Tauhid, penerbit universitas Islam Indonesia)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar