Senin, 09 Juli 2012

Tanya Jawab tentang Iklas

Pertanyaan
Assalaamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.
Kepada redaksi buletin Roudhotul Muhibbin yang saya hormati, saya ada sedikit pertanyaan tentang ikhlas, sudah sering saya mendengar tentang keikhlashan, keharusan ikhlash dan hal-hal lain tentang ikhlas, akan tetapi sejauh ini saya belum tahu persis, seperti apa hakikat ikhlas itu sendiri, mohon berkenan untuk menjelaskannya, karena saya yakin, bahwa manfaatnya bukan hanya untuk saya, akan tetapi untuk seluruh kaum muslimin yang membacanya, jazaakumullahu khairan atas jawabannya.
Hamba Allah di Jakarta

Jawaban Redaksi:
Wa’alaikumussalaam Warahmatullahi Wabarakaatuh.
Ikhlash memang merupakan sesuatu yang sangat penting dalam sebuah amalan atau pekerjaan, bukan hanya ia merupakan syarat dan rukun saja, akan tetapi secara dhahirpun, pekerjaan yang dilandasi ikhlas dan yang tidak, akan memiliki hasil yang berbeda, pekerjaan yang dilandasi ikhlas akan lebih halus dan berkualitas daripada pekerjaan yang tanpa dilandasi ikhlash, hanya saja seperti apakah hakekat ikhlash itu sendiri.
Ikhlash adalah memurnikan tujuan dalam mendekatkan diri (ibadah) kepada Alloh subhanahuwata’ala, dari segala macam kotoran.
Ada yang berpendapat, ikhlash adalah melupakan pandangan makhluk dengan senantiasa mengarah kepada sang Khaliq, Alloh Subhanahu wata’ala memerintahkan ikhlash seraya berfirman, yang artinya, “Tidaklah mereka diperintahkan kecuali supaya beribadah kepadaNya dalam agama yang lurus” (QS. Al-Bayyinah:). Juga firmanNya yang artinya,”Ingatlah hanya kepunyaan Allohlah agama yang bersih”(QS. Azzumar:3).
Dan sebuah riwayat menyebutkan, bahwa Abu Umamah menceritakan,”Seorang laki-laki datang kepada Nabi Shallallahu’alaihi wasallam, dan bertanya,”Bagaimana pendapat anda tentang orang yang berperang untuk mencari imbalan dan kenangan, apa yang akan diperolehnya?, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam menjawab,”Dia tidak akan memperoleh apa-apa”, lalu beliau bersabda, yang artinya,”Sesungguhnya Alloh tidak akan menerima amal perbuatan kecuali yang murni (ikhlas) dan dimaksudnya untuk mencari wajahNya”(HR. An-Nasa’i (6/25) al-Jihad, Al-Hafidz al-‘Iraqi mengatakan isnadnya hasan (Takhrij al-Ihya’ 4/28). Dalam riwayat lain disebutkan, yang artinya,”Ada tiga hal, yang hati seorang muslim tidak akan dendam padanya, (pertama) mengikhlashkan amal karena Alloh, (kedua) menasehati para pemimpin kaum muslimin, dan (ketiga) setia kepada jama’ah mereka” (HR.At-Tirmidzi, beliau mengatakan hadits ini shahih, 6/25). Artinya ketiga hal tersebut bisa membuat hati menjadi baik, siapa yang bersifat seperti itu maka hatinya akan menjadi baik, selamat dari sifat khianat, licik dan jahat.
Dan ikhlash ini merupakan alat yang Alloh berikan kepada hambaNya untuk menyelamatkan dari dari godaan syaitan, karena Alloh telah mengisahkan sumpah mereka dalam al-Qur an, yang artinya,”Kami (syaitan) akan selalu menggelincikan mereka, kecuali hamba-hambaMu yang ikhlash di antara mereka” (QS. Alhijr:40). Dari ayat ini kita dapat mengetahui bahwa ikhlash adalah untuk melawan syaitan, yang ia akan selalu membentengi seorang yang beramal, berkeyakinan dan bermuamalah yang tidak murni karena Alloh ta’ala.
Maka perlu diketahui bahwa setiap keuntungan duniawi yang disukai jiwa dan diminati hati- sedikit atau banyak – dapat merusak kejernihan hati itu sendiri dan bisa jadi menghilangkan keikhlasan yang melekat di dalamnya, sementara sangat sulit bagi manusia untuk menghindar dari tenggelamnya dengan urusan dunia dan selalu terpaut dengan kesenangan terhadapnya, oleh sebab itulah sebagian ulama’ mengatakan,” Sungguh beruntung orang yang memiliki satu langkah yang benar yang tidak ada maksud lain selain ridha Allah subhanahu wata’ala”.
Jadi ikhlash adalah membersihkan hati dari segala macam kotoran, sedikit atau banyak (dari dalam hati). Sehingga yang ada di dalamnya hanyalah niat taqarrub (mendekat kepada Alloh), dan tidak ada motif selain itu, dan orang yang mengiginkan ikhlash harus bisa membersihkan hatinya dari kecintaan kepada segala macam bentuk syahwat (hawa nafsu), dan hendaknya selalu mengisi hatinya dengan kecintaan kepad Alloh, dan senantiasa menyibukkan waktunya untuk mengingat akhirat. Orang seperti ini jika makan, minum, tidur, bahkan membuang hajatpun akan dilakukan dengan ikhlash dengan mengingat Alloh terlebih dahulu, dan dengan niat yang benar pula.
Sebagaimana setiap sesuatu yang dilakukan manusia berdasarkan motivasi-motivasi tertentu, begupun dengan ikhlash, ia memiliki motivasi tertentu juga, jika kita ingin benar-benar ikhlash, maka motivasi kita adalah cinta kepada Alloh dan cinta amalan akhirat, sekalipun secara fisik pekerjaannya adalah pekerjaan urusan dunia, akan tetapi jika ia mulai dengan cara yang benar, niat yang benar pelaksanaan yang benar dan atas dasar cita-cita yang benar pula maka insyaAllah itu akan bernilai akhirat, sebagaimana disebutkan para ulama’, bahwa dunia adalah tempat bercocok tanam untuk dipanen di akhirat.
Sebuah pelajaran berharga yang dapat kita ambil manfaatnya terdapat pada suatu kisah orang yang semula menunaikan shalat jama’ah di shaf terdepan. Lalu pada suatu saat ia terlambat dan harus menunaikan shalat di shaf kedua. Tiba-tiba ia merasa malu kepada jama’ah lainnya karena mereka melihatnya di shaf kedua. Kemudian ia menyadari bahwa persaaan senang dan nyaman yang ia rasakan saat ia shalat di shaf pertama adalah karena ia dilihat orang banyak, sehingga ia harus malu ketika ia berada di shaf kedua. Ini adalah permasalahan yang rumit, akan tetapi jarang orang yang benar-benar menyadarinya dengan seksama.
Dalam kitab Ihya’ Ulumuddin disebutkan,”Berdasarkan dalil dan kenyataan dilapangan jelas sekali bahwa kebahagiaan dan ketenagan hidup tidak bisa dicapai tanpa ilmu dan ibadah”. Akan tetapi lurusnya niat tidak boleh lepas dari kedua hal tersebut, karena amal tanpa niat akan rusak, niat tanpa ikhlas akan menjadi riya’, sebagian ulama’ mengatakan bahwa setatusnya sama dengan kemunafikan dan kemaksiatan, sedangkan keikhlasan tanpa kejujuran dan kesungguhan akan sia-sia. Alloh subhanahu wata’ala mengisahkan amalan-amalan yang dilakukan bukan karenaNya, yaitu dalam firmanNya yang artinya,”Dan Kami (Alloh) hadapkan amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal yan dilakukan itu debu yang berterbangan”(QS.Al-Furqon:23).
Dari uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa, pertama,ikhlas adalah mematahkan atau mengesampingkan kepentingan nafsu, tidak menjadikan dunia sebagai tujuan akhir, dan selalu memprioritaskan akhirat, sehingga perasaan dalam hati yang selalu muncul adalah mendapatkan kedudukan tinggi disisi Alloh Subhanahu wata’ala. Akan tetapi harus tetap dijaga niat kita, karena betapa banyak orang-orang yang mengira bahwa apa yang dilakukannya ikhlash karena Alloh akan tetapi ia tertipu, karena masih adanya motivasi lain dari apa yang dilakukan.
Kedua, orang yang ikhlas akan tenang dengan amal yang ia lakukan, karena sekalipun tidak mendapat sesuatupun dari manusia, ia yakin bahwa Alloh ‘Azza wajalla yang akan memberikan balasan sempurna, ia tahu bahwa Alloh tidak akan menyia-nyiakan sekecil apaun kebaikan manusia.
Ketiga, kualitas amalan seorang hamba tergantung dari niatnya, dan kualitas niat tergantung dari keikhlashannya, jika seorang yang beramal benar-benar ikhlash karena Alloh, maka hal itu akan memiliki bekas dalam kehidupannya, Alloh subhanahu wata’ala menjanjikan kebahagiaan ketenangan didunia dan balasan besar di akhirat apabila amalan kita benar-benar steril dari racun-racun hati yang menjadikan kecondongn kepada selain Alloh.
Keempat, ikhlas adalah ibadah hati, barang siapa bisa menerapkan dengan sempurna maka ia akan mencapai derajad tinggi, bukan hanya di akhirat, akan tetapi di dunia akan Alloh angkat derajatnya sesuai dengan yang Dia kehendaki, akan dimudahkan segala urusannya, akan diperbaiki amalnya, akan dibukakan pintu-pintu kebaikan untuknya, dan kita harus meyakini janji Alloh, karena Alloh tidak akan menyelisihi janjinya.
Kelima, lawan syaitan yang paling berat adalah orang-orang yang ikhlas, karena ia akan selalu memulai semua perbuatannya karena Alloh dan jika meninggalkannya juga karena Alloh subhanahu wata’ala, sementara syaitan selalu memalingkan manusia dariNya. Dengan ikhlas ini pula Alloh akan membuka hati hamba untuk melihat akhirat yang nyata, dan memandang urusan dunia bukan segalanya.
Keenam, ikhlas bukan hanya berkaitan dengan amalan, akan tetapi termasuk meninggalkan kemaksiatan kepada Alloh, orang yang meninggalkan sesuatu yang dilarang Alloh dengan niat untuk mendapat pahala dariNya, terhitung orang yang ikhlas, sebagaimana nabi Yusuf ‘alaihissalaam yang meninggalkan larangan Alloh untuk berbuat keji bersamaan dengan kesempatan yang terbuka seluas-luasnya, akan tetalpi beliau lebih takut kepada Alloh dari pada mengikuti hawa nafsunya, dan bahkan hal ini termasuk keikhlasan yang paling tinggi.
Ketujuh, termasuk keikhlasan adalah memberikan hak orang lain semestinya, sebagaimana kisah dalam shahih muslim, seorang dari bani israil yang memiliki pembantu kemudian berpisah, dan sisa upahnya belum diberikan, akan tetapi ia belikan sapi sisa upah itu sehigga dalam waktu yang cukup lama sapi itu dipelihara, dan beranak pinak. Sampai pada saat yang ditentukan Alloh subhanahu wata’ala akhirnya kembalilah sang pembantu tersebut kepada majikannya untuk mengambil upah yang belum diambil sehingga diberikan semua sapi yang sudah beranak pinak tersebut, dengan keikhlasannya majikan memberikan semua sapi-sapi yang banyak itu. Allohpun mencatatnya sebagai orang yang ikhlas, sehingga ia mendapat jaminan yang berupa surga yang dipersiapkan untuknya.
Demikianlah jawaban kami tentang keikhlasan ini, semoga bisa memberi pelajaran yang bermanfaat untuk kita semua, dan semoga Alloh mencatat kita semua sebagai orang yang ikhlas hanya untuk mendapatkan wajahNya. Amin.
Allohu a’lam.
Pertanyaan ini di jawab oleh Ustadz Bambang Tri Wantoro.
sebagian besar jawaban diambil dari kitab Al-Bahru ar-Roiq fi Az-Zuhdi wa ar- Roqooiq karya Dr. Ahmad Farid, dan dari sumber lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar