Karomah menurut pengertian etimologi berasal dari kata karuma, artinya kemuliaan. Sedangkan menurut pengertian terminologi adalah kejadian luar biasa, tidak untuk melawan dan tidak untuk mengaku nabi, Allah menampakkan kepada walinya yang beriman, untuk menolong urusan dien atau duniawinya. (Syarah Ushul I’tiqad ahlus-Sunnah wal-Jama’ah 9/15, al-Minhatul Ilahiyah fi Tahdzib Syarah at-Thahawiyah halaman 387).“
Demikianlah yang dijelaskan oleh para imam kaum muslimin bahwa karomah memang benar adanya, sebagaimana disebutkan oleh imam Abu Ja’far at-Thahawi, “ kami mengimani dalil-dalil yang menjelaskan adanya karomah (kemuliaan) wali, sedangkan orang mukmin yang paling karomah (mulia) adalah yang paling taat dan paling mengikuti sunnah” (Al-Minhah, halaman 386-387).
Adapun dalil bahwa para wali memiliki karomah adalah firman Allah (yang artinya), “ Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak pula mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat, tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah, yang demikian itu adalah kemenangan yang besar”. (QS. Yunus : 61-64). Berkata al-Baidhawi, “ Inilah kabar gembira untuk orang bertaqwa yang dijelaskan dalam kitab Allah dan sunah rasul-Nya shallallahu’alaihi wasallam, Allah memperlihatkan kepada mereka berupa impian yang benar, serta yang Nampak berupa kejadian luar biasa dan kabar gembira malaikat saat mencabut nyawanya ”. (Tafsir al-Baidhawi halaman283).
Penjelasan di atas menunjukkan bahwa para wali memiliki keutamaan yang berupa karomah, baik itu peristiwa luar biasa yang terkadang muncul atau keimanan dan ketaqwaan yang tinggi, dan inilah sebaik-baik karomah. Kemudian para ulama’ menjelaskan kriteria wali yang menyandang karomah, sebagaimana berikut :
1. Orang tersebut adalah orang mukmin dan bertaqwa kepada Allah.
2. Pelakunya tidak mengaku sebagai wali.
3. Karomahnya tidak menyebabkan meninggalkan kewajiban atau melanggar syari’at Islam.
4. Karomahnya tidak menyelisihi syari’at Islam.
5. Karomah itu terjadi ketika ia masih hidup (bukan ketika ia sudah meninggal).
(Diringkas dari Syarah Usul I’tiqad Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah 9/25-28)
Kemudian untuk lebih jelas, dalam melihat suatu peristiwa yang terjadi pada seseorang, apakah ia termasuk karomah atau bukan, maka para ulama’ memberikan beberapa keterangan, di antaranya ada ciri di bawah ini jika ia merupakan karomah :
1. Pelakunya adalah pengikut sunnah rasul shallallahu’alaihi wasallam, sepakat para ulama’ jika dijumpai ada orang yang bisa terbang, berjalan di atas air, jangan tergesa-gesa dinilai sebagai wali, sehingga benar-benar diketahui bahwa pelakunya adalah pengikut sunnah nabi (bahkan pembelanya), melaksanakan perintah dan meninggalkan larangannya, karena keanehan boleh jadi muncul dari wali Allah atau musuh Allah.
2. Karomah wali tidak bisa dipelajari dan tidak bisa diajarkan, berbeda dengan sihir yang dapat dipelajari dengan menyepi atau yang lainnya, sehingga pelakunya meninggalkan perintah-perintah yang wajib dan melanggar larangan.
3. Tidak mengklaim dirinya mempunyai karomah, yang secara tidak langsung pengakuan itu supaya dirinya dianggap wali.
4. Jika keanehan itu bisa diadu antara yang satu dengan yang lain, maka itu bukan karomah, tapi itu sihir.
5. Sihir dapat ditangkal dengan ayat kursi atau ayat-ayat yang lain dan do’a-do’a yang shahih.
(Diringkas dari Syarah Ushul I’tiqad ahlus-Sunnah wal-Jama’ah).
Jelaslah bagi kita sebagi orang muslim untuk meyakini apa yang diberitakan oleh Allah dan rasul-Nya shallallahu’alaihi wasallam, yang Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang yakin dalam keimannya terhadap-Nya. Dan perlu diketahui oleh kaum muslimin bahwa tujuan kita beribadah bukan untuk mendapatkan peristiwa-peristiwa luarbiasa tersebut. Berkenaan dengan itu para ulama juga memberikan fatwa kepada kaum muslimin, di antaranya adalah imam Abu Ali al-Juzjani yang berkata, “ jadilah oran yang mencari istiqamah (konsistensi), bukan mencari karomah. Dirimu sibuk mencari karomah, padahal Rab mu memerintahkanmu mencari istiqamah”. Syaikh as-Surawardi mengatakan ketika menceritakan tentang orang-orang sufi, “ …Mereka berupaya dengan berbagai macam ibadah dan zuhud untuk mencari karomah, padahal seharusnya orang mukmin mencari istiqamah, bukan mencari karomah”.(Al-Minhah halaman 388).
Bagi kaum muslimin hendaklah tetap konsisten dengan amal dan ibadahnya sekalipun Allah tidak memberikan peristiwa luar biasa pada dirinya, karena memang tujuan kita dalam beragama adalah bagaimana menjadi hamba Allah yang baik, bukan menjadi hamba Allah yang hebat, al-Imam Ali bin Abil Iz al-Hanafi memberikan nasehat yang sangat mulia kepada kita semua, beliau berkata, “ Ketahuilah bahwa tidak munculnya kejadian luar biasa (karomah) pada seorang yang beriman tidaklah membahayakan agamanya dan tidak pula mengurangi martabat dirinya di hadapan Allah, bahkan boleh jadi dengan tidak adanya karomah akan lebih bermanfaat bagi dirinya. Karena jika keanehan yang muncul pada diri orang mukmin disertai dengan amalan dien yang benar memang bermanfaat, tapi jika tidak, pemiliknya akan binasa di dunia dan di akhirat”. (Al-Minhah halaman 389).
Kemudian jika kita mendapati peristiwa luar biasa ini terjadi pada seorang yang beriman, maka syaikh Abdullah bin Abdul Hamid al-Atsari mengutip fatwa para ulama’ memberikan dengan nasehat sebagai berikut :
1. Mensyukuri ni’mat Allah yang dianugerahkan kepadanya.
2. Memohon kepada Allah ketetapan iman.
3. Hendaknya tidak terfitnah dengan karomah yang dimiliki.
4. Tidak menjadikan dirinya sombong dihadapan manusia.
(Al-Wajiz fi Aqidah Salaf as-Shalih).
Melengkapi materi ini, berikut kami sampaikan contoh-contoh karomah yang dianugerahkan Allah kepada para walinya.
1. Kisah Maryam binti Imran yang mendapatkan makanan dari Allah sebagaimana firman-Nya (artinya), “ Setiap Zakariya masuk untuk menemui maryam di Mihrab, ia dapati makanan disisinya. Zakariya berkata, “Hai maryam, dari mana kamu mendapatkan makanan ini ”, Maryam menjawab, “ Makanan itu dari sisi Allah”, sesungguhnya Allah memberikan rezeki kepada yang Dia kehendaki tanpa hisab”. (QS Ali ‘Imran :37).
2. Kisah tiga orang yang terperangkap dalam goa, karena mereka tidak mampu menggulingkan batu besar yang menutup pintu gua, lalu masing-masing bertawassul dengan amal shalihnya pada waktu yang lalu, kemudian Allah membukakan pintu gua tersebut, ini menunjukkan karomah orang beriman yang ikhlash beramal karena Allah. (Shahih bukhari hadits no. 5517).
Demikianlah mengenai wali Allah dan karomah yang dianugerahkan kepada mereka, yang pada dasarnya, semua itu ada dan diyakini oleh kaum muslimin, hanya saja jangan sampai salah dalam memberikan penilaian karena memang wali Allah itu memiliki kriteria-kriteria yang sudah disebutkan di atas, Allahua’lam.
(Diringkas oleh Bambang Tri Wantoro dari makalah ilmiyah “Karomah Wali”, oleh guru kami, Al-Ustadz Aunurrafiq bin Ghufron al-Hamdani)
Demikianlah yang dijelaskan oleh para imam kaum muslimin bahwa karomah memang benar adanya, sebagaimana disebutkan oleh imam Abu Ja’far at-Thahawi, “ kami mengimani dalil-dalil yang menjelaskan adanya karomah (kemuliaan) wali, sedangkan orang mukmin yang paling karomah (mulia) adalah yang paling taat dan paling mengikuti sunnah” (Al-Minhah, halaman 386-387).
Adapun dalil bahwa para wali memiliki karomah adalah firman Allah (yang artinya), “ Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak pula mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat, tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah, yang demikian itu adalah kemenangan yang besar”. (QS. Yunus : 61-64). Berkata al-Baidhawi, “ Inilah kabar gembira untuk orang bertaqwa yang dijelaskan dalam kitab Allah dan sunah rasul-Nya shallallahu’alaihi wasallam, Allah memperlihatkan kepada mereka berupa impian yang benar, serta yang Nampak berupa kejadian luar biasa dan kabar gembira malaikat saat mencabut nyawanya ”. (Tafsir al-Baidhawi halaman283).
Penjelasan di atas menunjukkan bahwa para wali memiliki keutamaan yang berupa karomah, baik itu peristiwa luar biasa yang terkadang muncul atau keimanan dan ketaqwaan yang tinggi, dan inilah sebaik-baik karomah. Kemudian para ulama’ menjelaskan kriteria wali yang menyandang karomah, sebagaimana berikut :
1. Orang tersebut adalah orang mukmin dan bertaqwa kepada Allah.
2. Pelakunya tidak mengaku sebagai wali.
3. Karomahnya tidak menyebabkan meninggalkan kewajiban atau melanggar syari’at Islam.
4. Karomahnya tidak menyelisihi syari’at Islam.
5. Karomah itu terjadi ketika ia masih hidup (bukan ketika ia sudah meninggal).
(Diringkas dari Syarah Usul I’tiqad Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah 9/25-28)
Kemudian untuk lebih jelas, dalam melihat suatu peristiwa yang terjadi pada seseorang, apakah ia termasuk karomah atau bukan, maka para ulama’ memberikan beberapa keterangan, di antaranya ada ciri di bawah ini jika ia merupakan karomah :
1. Pelakunya adalah pengikut sunnah rasul shallallahu’alaihi wasallam, sepakat para ulama’ jika dijumpai ada orang yang bisa terbang, berjalan di atas air, jangan tergesa-gesa dinilai sebagai wali, sehingga benar-benar diketahui bahwa pelakunya adalah pengikut sunnah nabi (bahkan pembelanya), melaksanakan perintah dan meninggalkan larangannya, karena keanehan boleh jadi muncul dari wali Allah atau musuh Allah.
2. Karomah wali tidak bisa dipelajari dan tidak bisa diajarkan, berbeda dengan sihir yang dapat dipelajari dengan menyepi atau yang lainnya, sehingga pelakunya meninggalkan perintah-perintah yang wajib dan melanggar larangan.
3. Tidak mengklaim dirinya mempunyai karomah, yang secara tidak langsung pengakuan itu supaya dirinya dianggap wali.
4. Jika keanehan itu bisa diadu antara yang satu dengan yang lain, maka itu bukan karomah, tapi itu sihir.
5. Sihir dapat ditangkal dengan ayat kursi atau ayat-ayat yang lain dan do’a-do’a yang shahih.
(Diringkas dari Syarah Ushul I’tiqad ahlus-Sunnah wal-Jama’ah).
Jelaslah bagi kita sebagi orang muslim untuk meyakini apa yang diberitakan oleh Allah dan rasul-Nya shallallahu’alaihi wasallam, yang Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang yakin dalam keimannya terhadap-Nya. Dan perlu diketahui oleh kaum muslimin bahwa tujuan kita beribadah bukan untuk mendapatkan peristiwa-peristiwa luarbiasa tersebut. Berkenaan dengan itu para ulama juga memberikan fatwa kepada kaum muslimin, di antaranya adalah imam Abu Ali al-Juzjani yang berkata, “ jadilah oran yang mencari istiqamah (konsistensi), bukan mencari karomah. Dirimu sibuk mencari karomah, padahal Rab mu memerintahkanmu mencari istiqamah”. Syaikh as-Surawardi mengatakan ketika menceritakan tentang orang-orang sufi, “ …Mereka berupaya dengan berbagai macam ibadah dan zuhud untuk mencari karomah, padahal seharusnya orang mukmin mencari istiqamah, bukan mencari karomah”.(Al-Minhah halaman 388).
Bagi kaum muslimin hendaklah tetap konsisten dengan amal dan ibadahnya sekalipun Allah tidak memberikan peristiwa luar biasa pada dirinya, karena memang tujuan kita dalam beragama adalah bagaimana menjadi hamba Allah yang baik, bukan menjadi hamba Allah yang hebat, al-Imam Ali bin Abil Iz al-Hanafi memberikan nasehat yang sangat mulia kepada kita semua, beliau berkata, “ Ketahuilah bahwa tidak munculnya kejadian luar biasa (karomah) pada seorang yang beriman tidaklah membahayakan agamanya dan tidak pula mengurangi martabat dirinya di hadapan Allah, bahkan boleh jadi dengan tidak adanya karomah akan lebih bermanfaat bagi dirinya. Karena jika keanehan yang muncul pada diri orang mukmin disertai dengan amalan dien yang benar memang bermanfaat, tapi jika tidak, pemiliknya akan binasa di dunia dan di akhirat”. (Al-Minhah halaman 389).
Kemudian jika kita mendapati peristiwa luar biasa ini terjadi pada seorang yang beriman, maka syaikh Abdullah bin Abdul Hamid al-Atsari mengutip fatwa para ulama’ memberikan dengan nasehat sebagai berikut :
1. Mensyukuri ni’mat Allah yang dianugerahkan kepadanya.
2. Memohon kepada Allah ketetapan iman.
3. Hendaknya tidak terfitnah dengan karomah yang dimiliki.
4. Tidak menjadikan dirinya sombong dihadapan manusia.
(Al-Wajiz fi Aqidah Salaf as-Shalih).
Melengkapi materi ini, berikut kami sampaikan contoh-contoh karomah yang dianugerahkan Allah kepada para walinya.
1. Kisah Maryam binti Imran yang mendapatkan makanan dari Allah sebagaimana firman-Nya (artinya), “ Setiap Zakariya masuk untuk menemui maryam di Mihrab, ia dapati makanan disisinya. Zakariya berkata, “Hai maryam, dari mana kamu mendapatkan makanan ini ”, Maryam menjawab, “ Makanan itu dari sisi Allah”, sesungguhnya Allah memberikan rezeki kepada yang Dia kehendaki tanpa hisab”. (QS Ali ‘Imran :37).
2. Kisah tiga orang yang terperangkap dalam goa, karena mereka tidak mampu menggulingkan batu besar yang menutup pintu gua, lalu masing-masing bertawassul dengan amal shalihnya pada waktu yang lalu, kemudian Allah membukakan pintu gua tersebut, ini menunjukkan karomah orang beriman yang ikhlash beramal karena Allah. (Shahih bukhari hadits no. 5517).
Demikianlah mengenai wali Allah dan karomah yang dianugerahkan kepada mereka, yang pada dasarnya, semua itu ada dan diyakini oleh kaum muslimin, hanya saja jangan sampai salah dalam memberikan penilaian karena memang wali Allah itu memiliki kriteria-kriteria yang sudah disebutkan di atas, Allahua’lam.
(Diringkas oleh Bambang Tri Wantoro dari makalah ilmiyah “Karomah Wali”, oleh guru kami, Al-Ustadz Aunurrafiq bin Ghufron al-Hamdani)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar