Rasulullah shallallahu’alaihi wasalam diutus setelah para nabi dan rasul sebelumnya, beliau dibangkitkan ditengah masyarakat yang dikuasai permusuhan, kebencian dan kedengkian, yang tersisa hanyalah persaudaraan atas nama materi dan keuntungan duniawi. Sifat rahmah yang Allah sandarkan kepada beliau merupakan contoh paling sempurna untuk ditauladani. Suatu saat di musim haji, rasulullah shallallahu’alaihi wasallam berbicara dengan penduduk dari suku khazraj, beliau menawarkan Islam kepada mereka, sehingga mereka berkomentar, “sesungguhnya kami telah meninggalkan kaum kami. Tidak ada kaum yang terlepas dari permusuhan dan keburukan sesama mereka, semoga Allah mempersatukan mereka melalui engkau”.(sirah ibnu hisyam I/429).
“
Ternyata benar, Allah mempersatukan hati mereka melalui beliau, sehingga suatu ketika beliau shallallahu’alaihi wasallam mengangkat suara, “ wahai sekalian kaum anshar, bukankah dulu aku mendapati kalian dalam keadaan tersesat, kemudian Allah memberikan petunjuk kepada kalian melalui diriku. Bukankan ketika itu kalian tercerai berai kemudian Allah mempersatukan kalian melalui diriku, “ (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Ternyata benar, Allah mempersatukan hati mereka melalui beliau, sehingga suatu ketika beliau shallallahu’alaihi wasallam mengangkat suara, “ wahai sekalian kaum anshar, bukankah dulu aku mendapati kalian dalam keadaan tersesat, kemudian Allah memberikan petunjuk kepada kalian melalui diriku. Bukankan ketika itu kalian tercerai berai kemudian Allah mempersatukan kalian melalui diriku, “ (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Islam agama yang mulia ini sangat ingin menjadikan umat ini sebagai umat yang bersatu lahir dan batin. Sehingga yang ada di antara mereka hanyalah kasih sayang, persaudaraan serta nasehat yang membangun, yang dengannya nasehat untuk kesalahan diiringi dengan kejernihan serta kelembutan nurani tanpa harus terjatuh dalam jerat kedengkian dan perangkap syaitan yang lain, baik kebencian, hasad, saling membelakangi, hajr (boikot) maupun pemutusan hubungan. Marilah kita mengingat nasehat mulia dari nabi shallallahu’alaihi wasallam, “janganlah kalian saling membenci, saling dengki, saling membelakangi dan saling menjauhi, jadilah kalian hamba Allah yang saling bersaudara, tidak halal bagi seorang muslim menjauhi saudaranya lebih dari tiga hari,” (HR. al-Bukhari-Muslim)
Terjaganya hati dari sikap-sikap buruk kepada sesama adalah bagian dari islam yang tidak boleh ditinggalkan, ia merupakan pelajaran besar yang harus diketahui oleh kaum muslimin, ia merupakan bagian dari rahmat Allah yang diturunkan untuk hamba-hambaNya, Allah menjaga mereka dengan persatuan dan keutuhan yang didasari dengan cinta dan kasih sayang, mendidik mereka untuk selalu saling menasehati dengan cara yang baik apabila terjadi kesalahan, tidak diperbolehkan permusuhan antara kaum muslimin, yang mana itu merupakan sumber kehancuran yang akan mengancam umat besar ini, sehingga mereka akan hancur di dunia dan di akhirat, Allah berfirman, (yang artinya) : “ Dan janganlah kalian menyerupai orang-orang yang bercerai berai dan berselisih setelah datang keterangan yang jelas kepada mereka” (QS. Ali imran : 105)
Maka berdasarkan ayat yang mulia di atas, sebuah nasehat yang sangat indah disampaikan para imam kaum muslimin, “ Setiap masalah yang terjadi dalam islam dan diperselisihkan umat tetapi tidak mengakibatkan permusuhan, kebencian dan perpecahan di antara mereka, maka kita ketahui bahwa ia termasuk masalah agama (fiqih, pen). Sebaliknya, setiap masalah yang terjadi dan ada secara tiba-tiba (yaitu muncul setelah nabi dan para sahabat, pen), dan ia menimbulkan permusuhan, kebencian, saling menjauhi, dan memboikot, maka kita ketahui bahwa ia sama sekali bukan bagian dari agama” (Imam asy-Syathibi, al-I’tisham II/734)
Allah ‘Azza wajalla mengutus rasul-Nya ke tengah-tengah umat ini untuk membawa mereka ke jalan petunjuk, beliau memberikan kabar gembira bagi orang-orang yang mengikutinya dan memberikan peringatan kepada orang-orang yang tidak meniti jalannya, Allah menjadikan tazkiyat an-nufus (penyucian jiwa) dan tarbiyah (pendidikan) sebagai salah satu misi utama kerasulan beliau, sebagaimana firman-Nya (yang artinya) : “ Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah. Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata “ (QS. al-Jumu’ah : 2).
Sangat jelas sekali ayat ini menunjukkan bahwa sebelumnya manusia dalam kesesatan nyata, yang Allah beri petunjuk kepada mereka melalui nabi shallallahu’alaihi wasallam dengan mengikuti sunnahnya. Sehingga jika seseorang tidak mengambil jalan petunjuk tersebut dikhawatirkan akan mendapatkan kesesatan sebagaimana disebutkan dalam ayat di atas. Nabi shallallahu’alaihi wasallam dengan risalah yang diterima menjalankan amanah ini dengan pertolongan Allah ‘Azza wajalla, firman-Nya (yang artinya) : ” Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongannya dan dengan orang-orang mukmin. Dan Dia yang mempersatukan hati mereka (orang-orang mukmin). Walaupun kamu membelanjakan (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat menyatukan hati mereka, akan tetapi Allah yang menyatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia maha perkasa lagi maha bijaksana “ (QS. An-Anfal: 62-63).
Allah menunjukkan kepada kita semua bahwa Dia menguatkan nabi-Nya shallallahu’alaihi wasallam dengan pertolongannya dan bersatunya hati orang-orang mukmin, yang buah indahnya adalah saling mencintai dan menyayangi di antara mereka, sehingga kasih sayang antara orang mukmin satu dengan yang lainnya menjadi tanda keimanan seseorang, sebagaimana sabdanya : “ Kalian tidak masuk surga sebelum kalian beriman, dan tidaklah kalian beriman sebelum saling mencintai…” (HR. Muslim).
Rasa saling mengasihi tumbuh dari iman yang tulus, dan dengan saling menyayangilah, kesempurnaan iman akan tercapai. Karena itulah, ketika nabi shallallahu’alaihi wasallam ditanya tentang manusia yang paling utama, beliau menyebutkan bahwa di antara sifat-sifat yang menjadikan seorang hamba layak menduduki jabatan itu adalah terjaganya hati. Dalam hadits Abdullah ibn Amr radhiyallahu’anhuma, ia menuturkan bahwa rasul shallallahu’alaihi wasallam pernah ditanya, “ Manusia seperti apakah yang paling utama?, beliau menjawab, ” yaitu setiap orang yang makhmuumulqalbi, dan berlisan jujur “. Mereka berkata, “ Kalau orang yang berlisan jujur kami sudah tahu wahai rasulullah, tapi apakah makhmumulqalbi itu ? Beliau menjawab, “ Yaitu orang yang bertaqwa dan berhati bersih, tidak memiliki dosa, tidak berbuat aniaya, tidak dengki dan tidak pula hasad” (shahih sunan ibnu majah).
Beliau shallallahu’alaihi wasallam mengawalinya dengan ketaqwaan hati yang di antara buahnya adalah kebersihan nurani kemudian terpeliharanya hati dan dosa dengan selalu memohon ampun jika melakukan kesalahan, sifat aniaya, dengki dan hasad. Inilah di antara ciri-ciri hati yang terjaga, yang tidak diraih kecuali oleh orang yang yang diberi karunia oleh Allah dengannya. Beliau shallallahu’alaihi wasallam juga bersabda, “ Maukah kuberitahu kalian (amalan) yang kedudukannya lebih utama dari puasa, shalat, dan sedekah. Para sahabat menjawab, “ Tentu .“ Beliau bersabda, “ Memelihara hubungan sesama ” (shahih sunan Abu Dawud).
Maka marilah kita berusaha menjadi muslim yang baik dihadapan Allah Ta’ala, dengan petunjuk yang sangat indah ini, yaitu untuk menjadi orang yang bersih hati hati sifat-sifat yang menyebabkan timbulnya kotoran hati, yang semuanya akan menjadi tumpukan dosa dan menjadi pemicu terjadinya permusuhan, maka wahai kaum muslimin bersatulah sesungguhnya Allah dan rasulnya shallallahu’alaihi wasallam sangat mencintai persaudaraan yang diwujudkan dengan persautan dan membenci permusuhan yang akibatnya akan memicu perpecahan, sebagaimana firmannya (artinya) :” …Dan janganlah kalian menjadi (seperti) orang-orang musyrik. (yaitu) golongan orang-orang yang memecah agama mereka, sehingga mereka menjadi kelompok-kelompok, yang setiap kelompok merasa bangga dengan apa yang ada pada diri mereka “ (QS. Ar-Rum : 31-32).
(Disarikan oleh Bambang Tri Wantoro, dari buku al-Hatsu ‘ala shihhatil-qulub, karya syaikh Ali ad-Dahami, atau Hati yang bersih, dalam edisi indnesia).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar