Oleh: Ust. Abu Aiman
Saudaraku, kehidupan dunia telah memasuki akhir zaman. Dimana manusia banyak tenggelam dengan kenikmatan dunia. Kenikmatan yang bisa membantu seseorang menuju surga jika digunakan di jalan Allah dan kenikmatan yang bisa menjerumuskan seseorang ke dalam neraka jika lalai memanfaatkannya. Tidak dipungkiri, bahwa beberapa sebabnya adalah pertama, sedikitnya orang yang menilik kembali pada masa lalu, masa-masa gemilangnya Islam, masa-masa manusia (baca: Rasulullah dan para sahabatnya) meraih dunia dan juga meraih akhirat yang dapat dijadikan contoh terbaik, yang kedua, banyaknya orang yang telah kehilangan (baca: menghilangkan) sosok figur panutan baik dalam hal meraih dunia maupun akhirat (dan tentu masih ada banyak lagi sebab yang lain). Karenanya kami persembahkan kepada pembaca sebuah kisah dari zaman terbaik, dari generasi pilihan, kisah para
sahabat Rasulullah, yang mencontohkan sikap saling memaafkan sesama mereka, yang membuat orang lain terharu ketika membacanya, yang amat fenomenal yang mungkin kita belum pernah mendengarnya atau jarang diantara kita yang mendengarnya.
Saudaraku, kehidupan dunia telah memasuki akhir zaman. Dimana manusia banyak tenggelam dengan kenikmatan dunia. Kenikmatan yang bisa membantu seseorang menuju surga jika digunakan di jalan Allah dan kenikmatan yang bisa menjerumuskan seseorang ke dalam neraka jika lalai memanfaatkannya. Tidak dipungkiri, bahwa beberapa sebabnya adalah pertama, sedikitnya orang yang menilik kembali pada masa lalu, masa-masa gemilangnya Islam, masa-masa manusia (baca: Rasulullah dan para sahabatnya) meraih dunia dan juga meraih akhirat yang dapat dijadikan contoh terbaik, yang kedua, banyaknya orang yang telah kehilangan (baca: menghilangkan) sosok figur panutan baik dalam hal meraih dunia maupun akhirat (dan tentu masih ada banyak lagi sebab yang lain). Karenanya kami persembahkan kepada pembaca sebuah kisah dari zaman terbaik, dari generasi pilihan, kisah para
sahabat Rasulullah, yang mencontohkan sikap saling memaafkan sesama mereka, yang membuat orang lain terharu ketika membacanya, yang amat fenomenal yang mungkin kita belum pernah mendengarnya atau jarang diantara kita yang mendengarnya.
Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Al-Hakim didalam kitabnya Al-Mustadrak dan banyak juga diriwayatkan oleh kitab kitab sunnah lainnya, dengan riwayat yang shahih. Kisah ini tentang perselisihan antara sahabat yang mulia Abu Bakar Ash-Shiddiq dengan sahabat Rabi'ah bin Ka'ab, dua sahabat Rasulullah yang utama dan mulia. Yang pertama sahabat Abu Bakar, sahabat utama, manusia yang paling dekat dan paling dicintai oleh Rasulullah, kekasih Rasulullah, Khalifah Ar-Rasyid. Dan yang kedua, sahabat Rabi'ah bin Ka'ab. Dia adalah salah seorang sahabat sekaligus pembantu Rosulullah yang pernah berkata kepada Rasulullah ingin menemaninya disurga, ketika Rosulullah berkata kepadanya, "Wahai Rabi’ah mintalah kepadaku, aku akan doakan.” Maka Rabi’ah menjawab, “Aku ingin menemanimu di surga Ya Rasulullah.”
Lihatlah ia tidak meminta, “Ya Rasulullah, doakan agar rizki saya dimudahkan. Ya Rasulullah, doakan agar aku mendapatkan istri yang cantik. Ya Rasulullah, doakan aku begini dan begitu dan yang lainnya.” Akan tetapi satu yang Rabi’ah inginkan yaitu menemani Rasulullah di surga.
Kisah itu dimulai ketika Rasulullah memberikan sebidang tanah kepada kedua sahabatnya (Rabi'ah bin Ka’abdan Abu Bakar), masing-masing sebidang dan saling berdampingan. Kemudian kedua sahabat Rasulullah ini saling berselisih dan bertengkar atas sebatang pohon kurma. Lihatlah saudaraku itulah dunia, lihat bahayanya, jangankan kita, mereka para sahabat Rasulullah pun dunia bisa mempengaruhi hubungan mereka, apalagi kita yang keadaannya amat cinta sekali terhadap dunia. Tetapi mereka tidak, mereka cepat sadar dan cepat kembali kepada yang benar.
Mari kita lanjutkan kisahnya, kemudian Abu Bakar berkata kepada Rabi’ah, "kurma ini masuk di dalam batas tanahku." Dan Rabi’ah pun berkata, "Tidak! kurma ini masuk di dalam batas tanahku." Sehingga terucaplah dari lisan Abu Bakar satu kalimat yang Rabi’ah tidak menyukainya, namun begitu kata-kata itu terucap Abu Bakar langsung menyesal, lalu Abu Bakar berkata, "Wahai Rabi’ah, ucapkanlah kata-kata seperti yang telah saya ucapkan kepadamu." Abu bakar merasa bersalah, merasa berdosa karena telah mengucapkan kata-kata yang tidak patut kepada saudaranya, Abu Bakar mengulang-ngulang terus permohonannya agar Rabi’ah mau membalasnya, "Wahai Rabi’ah, balas saya, ucapkan seperti yang saya ucapkan kepadamu." Rabi'ah tetap tidak mau membalasnya, justru berkata, “Aku tidak akan mengatakan kepadamu kecuali yang baik-baik saja.” Abu Bakar bersikeras meminta Rabi’ah untuk membalasnya.
Namun Rabi'ah tetap tidak mau membalasnya, karena ia mengetahui kedudukan dan posisi Abu Bakar dimata Allah dan Rasul-Nya, kemudian Abu Bakar berkata, "Demi Allah, kamu harus ucapkan seperti yang aku ucapkan kepadamu, agar menjadi qishos atasku atau akan aku adukan kepada Rasulullah.” Akan tetapi Rabi’ah juga bersih keras tidak mau membalasnya, lalu Abu Bakar berkata, "Baiklah kalau begitu, kalau kamu tidak mau membalasnya akan aku adukan kepada Rasulullah.” Lalu pergilah Abu Bakar untuk menemui Rasulullah dan Rabi’ah menyusulnya dari belakang, di tengah perjalanan Rabi’ah bertemu karib kerabat sukunya yaitu Bani Aslam. Mereka berkata, "Semoga Allah merahmati Abu Bakar, dia yang mencelamu Rabi’ah, dia yang mengatakan kata kata yang tidak layak kepadamu, dia pula yang mengadu kepada Rasulullah, itu tidak pantas, jangan biarkan.. Jangan biarkan.. Dia pula yang salah, bagaimana mungkin dia yang mengadukan kepada Rasulullah?!"
Kemudian Rabi'ah berkata kepada saudara saudaranya, "Kalian tahu siapakah dia? Dia sahabat Abu Bakar, teman Rasulullah di dalam gua (Hira), manusia termulia setelah Nabi dan Rasul, orang yang dituakan oleh kaum muslimin, pergi kalian! Jangan sampai Abu Bakar melihat kalian membelaku, sehingga dia marah. Lalu Rasulullah pun marah kepadaku karena kemarahan Abu Bakar. Akhirnya sampailah Abu Bakar di depan Rasulullah, kemudian ia kisahkan peristiwa tersebut , setelah Rasulullah mendengarkan penuturan dari sahabatnya, Abu Bakar, Rasulullah ingin pula mendengarkan penuturan dari sahabat Rabi'ah. Kemudian Rasulullah memanggil Rabi'ah, lalu Rabi'ah mendekat, lalu Rasulullah dengan lembut bertanya, "Wahai Rabi'ah, ada apa antara engkau dan Ash-Shiddiq?” Saudaraku, lihat pemimpin yang bijaksana, walaupun Abu Bakar adalah orang yang paling Rasulullah cintai, akan tetapi Rasulullah tidak langsung memvonis berdasarkan penuturan satu pihak saja, melainkan Rasulullah ingin mendengarkan penuturan dari kedua belah pihak, kemudian Rasulullah kembali bertanya kepada Rabiah, "Ada apa wahai Rabi’ah?” Akhirnya Rabi'ah pun menceritakan kejadiannya yang sebenarnya, persis sama dengan yang dikatakan Abu Bakar.
Subhanallah.. Begitu juga kita seharusnya, apabila sampai ketelinga kita sesuatu yang buruk tentang saudara kita, jangan cepat-cepat memvonis, bisa jadi berita itu tidak benar, sehingga merusak hubungan ukhwah kita, tanya dulu, teliti dulu, selama saudara kita itu kita kenal zhahirnya sholih, taat, adil, kita tidak boleh berburuk sangka kepadanya.
Kemudian Rasulullah berkata kepada Rabi'ah, "Wahai Rabi'ah, ucapkan seperti ucapan Abu Bakar kepadamu." Akan tetapi Rabi’ah tetap tidak mau juga, dia tidak mau merendahkan Abu Bakar, kemudian Rasulullah berkata, "Baiklah kalau begitu, kalau kamu tidak juga mau mengucapkan seperti yang diucapkan oleh Abu Bakar, maka ucapkanlah ‘Semoga Allah mengampunimu, Wahai Abu Bakar’." Kemudian Rabi'ah pun mengucapkan kalimat tersebut, "Semoga Allah mengampunimu, Wahai Abu Bakar." Seketika itu Abu Bakar pergi meninggalkan majelis tersebut sambil menangis, bercucuran air mata, menangis terisak-isak karena ia merasa bersalah terhadap saudaranya. Dan Abu Bakar tidak henti hentinga mendo'akan sahabatnya itu, "Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan, Wahai Rabi’ah , Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan, Wahai Rabi’ah."
Subhanallah.. Pelajaran yang begitu berharga, apa yang bisa kita petik dari kisah ini? Semuanya bisa kita petik disini, entah dari mana kita harus memulainya, tentang Sahabat Abu Bakar yang begitu cepat menyadari kesalahannya, tentang hatinya yang begitu lembut dan mudah tersentuh, atau tentang Sahabat Robi'ah bin Ka'ab yang memahami dan menghormati orang yang lebih tua dari pada dia, yang menghormati para sahabat Rasulullah, atau tentang keadilan dan kebijaksanaa Rasulullah. Terlepas dari itu semua, kehidupan Rasulullah, kehidupan para sahabat adalah sebuah sekolah, madrasah, yang patut kita kaji, wajib kita pelajari. Banyak sekali pelajaran-pelajaran berharga yang bisa kita contoh, kita teladani, kita jadikan sebagai cerminan dalam kehidupan kita sehari hari.
Abu Aiman dan Ummu Aiman
Sumber: Kajian Al Ustadz Abu Zubair Al Hawary, Lc. dengan sedikit perubahan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar